Sunday, March 18

Makna Ogoh-Ogoh Waktu Malam Nyepi (Pengrupukan)

Share on :

Prosesi Ogoh-Ogoh serangkaian dengan upacara Tawur Kesanga adalah sebuah ekspresi kreatif masyarakat Hindu di Bali, khususnya di Kota Denpasar, di dalam memaknai perayaan pergantian Tahun Caka. Masyarakat menciptakan Ogoh-Ogoh Bhutakala seperti : Kala Bang, Kala Ijo, Kala Dengen, Kala Lampah, Kala Ireng, dan banyak lagi bentuk-bentuk lainnya, sebagai perlambang sifat-sifat negatif yang harus dilebur agar tidak menggangu kehidupan manusia. Ogoh-Ogoh Bhutakala yang diciptakan kemudian dihaturkan sesaji “natab caru pabiakalan” sebuah ritual yang bermakna “nyomia”, mengembalikan sifat-sifat Bhutakala ke asalnya. Ritual tersebut dilanjutkan dengan prosesi Ogoh-Ogoh, seluruh lapisan masyarakat bersama-sama mengusung Ogoh-Ogoh mengelilingi jalan-jalan desa dan mengitari catus pata sebagai simbol siklus sakral perputaran waktu menuju ke pergantian tahun Caka yang baru. Setelah ritual dan prosesi Ngerupuk tersebut Ogoh-Ogoh Bhutakala itupun “di-prelina”, mengembalikan keasalnya dengan dilebur atau dibakar. Terkait dengan upacara Tawur Kesanga dan ritual Ngerupuk tersebut, prosesi Ogoh-Ogoh mengandung dua makna yaitu :
1) mengekspresikan nilai-nilai religius dan ruang-waktu sakral berdasarkan sastra-sastra agama,
2) merupakan karya kreatif yang disalurkan melalui ekspresi keindahan dan kebersamaan. Atas dasar pemikiran tersebut di atas Pemerintah Kota Denpasar menyelenggarakan Lomba Ogoh-Ogoh Tawur Kesanga Tahun 2010 sekaligus sebagai perayaan menyambut Tahun Caka 1932.

TUJUAN DAN MANFAAT

Tujuan dan manfaat yang ingin dicapai adalah : pertama, menyediakan ruang publik yang dapat mendorong kreatifitas generasi muda yang terhimpun dalam wadah Seka Truna Truni (STT) untuk menyalurkan eskpresi seninya; kedua, merayakan pergantian tahun Caka dan menyambut Tahun baru hindu

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...