Thursday, March 29

Demam Tanda Tubuh Melawan Infeksi

Share on :

DEMAM pada anak seringkali membuat para orang tua panik. Berbagai cara pun dilakukan demi menurunkan panas si kecil.

Merry, misalnya. Ibu berusia 35 tahun ini memilih tak berspekulasi saat anaknya demam. “Kalau badannya panas, saya langsung ke dokter dan dikasih obat. Saya enggak mau membiarkan anak sakit lama-lama,” ujar ibu berusia 35 tahun itu.

Lain lagi dengan Lena, putranya, Nevan, memang jarang sakit. Kalaupun badannya panas, alih-alih memberikan obat pereda demam, Lena malah langsung menuju dapur dan mengambil beberapa butir bawang merah, meremasnya dengan tangan sampai hancur sambil diberi minyak kayu putih. Seraya membalurkannya ke sekujur tubuh Nevan.

“Saya lebih percaya obat tradisional yang diberitahukan ibu saya. Alhamdulillah, cara ini cukup ampuh. Beberapa kali diberi bawang, panasnya langsung turun,” cerita Lena.

Apa pun cara yang ditempuh, yang jelas orang tua pastinya tersenyum bahagia melihat keceriaan si kecil hadir kembali. Padahal, demam merupakan pertahanan tubuh untuk melawan infeksi. Beberapa bakteri dan virus yang menyebabkan infeksi, tumbuh subur pada suhu tubuh normal. Meningkatnya suhu tubuh akan membantu tubuh melawan bakteri dan virus dalam tubuh. Demam pada anak menandai mekanisme pertahanan tubuh sedang melawan infeksi. Suhu tubuh kita diatur oleh hipotalamus yang berperan sebagai thermostat.

Saat hipotalamus mengetahui ada kuman yang masuk ke tubuh, secara otomatis thermostatakan menunjukkan angka lebih tinggi dari angka suhu tubuh normal. Misalnya pada kondisi normal suhu tubuh menunjukkan 37 derajat Celsius. Jika suhu anak melebihi suhu tersebut (misalnya 38 derajat Celsius), anak dikatakan demam.

Demam yang muncul juga bisa disebabkan gigi tumbuh yang mengakibatkan adanya luka sehingga kuman masuk dan terjadilah infeksi yang menyebabkan demam tersebut. Bisa juga demam muncul sebagai gejala terserang penyakit, tertentu seperti demam berdarah, malaria, tifus, dan peradangan hati. Dengan kata lain, demam justru bermanfaat bagi tubuh untuk membangun daya tahan. Hal itu diungkapkan dokter anak Dr Paul Theissen.

Dia menuturkan, berbagai penelitian mengatakan, demam adalah proses adaptasi penting dari tubuh untuk bertahan dari infeksi. Sementara, sebagian besar orang tua berpikir bahwa demam adalah penyakit yang harus diobati.

“Seharusnya pengobatan anak yang demam dilakukan jika sudah merasa tidak nyaman atau sakit. Namun, jangan selalu berpikir demam harus diobati dan diturunkan begitu saja,” ujar Paul.

Senada dengan pernyataan dokter spesialis anak dr Efrianty Nugroho. Menurut dia, jika bayi demam sebaiknya tidak perlu buru-buru ke dokter. “Lakukan self healing di rumah. Berikan cairan yang banyak, semisal ASI dan air putih, maka suhu tubuh anak akan kembali normal,” katanya.

Dijelaskan Dr H Hindra Irawan SpA (K) MTrop Paed, jika penyebab demam adalah virus, maka berikan cukup minum dan istirahat.

”Indikator anak minum dengan cukup adalah dia buang air kecil setiap 4–6 jam. Sementara, jika penyebabnya bakteri, baru diberikan antibiotik,” ujar Hindra.

Demam yang terjadi pada anak-anak umumnya karena infeksi kuman, baik virus maupun bakteri. Demam yang terjadi pada anak-anak biasanya tak berbahaya dan tak menyebabkan kerusakan otak atau kerusakan fisik. Dengan adanya demam, jumlah substansi antivirus di dalam tubuh pun ikut meningkat. Untuk mengukur suhu tubuh anak, dia menyarankan, orangtua harus menggunakan termometer yang akurat. Jangan menilai panas tubuh anak hanya dengan meraba menggunakan tangan atau bagian tubuh lainnya.

“Untuk pengukuran suhu tubuh sekarang, sudah ada macam termometer seperti elektronik digital dan melalui telinga. Termometer gelas yang berisi air raksa sudah tidak direkomendasikan lagi karena berbahaya dan mengganggu kelestarian alam. Jadi, meski kurang tepat,dianjurkan pengukuran melalui oral atau ketiak,” sebutnya.

Lalu, kapan saat yang tepat membawa si kecil ke dokter? Jika suhu tubuh anak amat tinggi, muntah, atau diare terus-menerus, mulut kering, demam yang naik-turun, serta rewel dan selalu menangis meskipun sudah dilakukan berbagai cara untuk menenangkannya, tidak nafsu makan, wajah pucat, lemas, kejang, kulit kemerahan, dan sulit bernapas, maka ini indikasi Anda harus segera membawa anak ke dokter.

Sebaliknya, Anda cukup merawat anak di rumah jika anak masih bisa bermain, berselera makan dan minum, serta tidak pucat dan lemas. Tugas Anda hanyalah membuatnya senyaman mungkin, memberi cairan cukup banyak, dan membiarkannya beristirahat. Dengan begitu, demam dapat turun dengan sendirinya.

Sumber

0 komentar:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...