Thursday, May 10

Wayang Ceng Blonk: Sarat Pesan Moral Dalam Kemasan Humor

Share on :

Bila anda berkunjung ke Bali, jangan lewatkan untuk bisa menonton wayang Ceng Blonk. Saat momen hari-hari raya atau hari kebesaran Negara, kita bisa menyaksikan pertunjukan wayang Cenk Blong ini di beberapa tempat di Denpasar yang sudah dikenal, seperti di Lapangan Puputan, atau Art Centre Pusat Seni Rakyat.

Coba tonton Wayang Cenk Blonk ini. Wayang yang asli dari daerah Blayu — Tabanan — Bali ini sangat berbeda dengan wayang biasanya. Penggabungan antara tradisional dan kreativitas modern.

Wayang Cenk Blonk ini dikembangkan Oleh I Wayan Nardayana.


Nardayana awalnya memberikan nama pagelaran ini dengan nama Wayang Kulit Gitaloka dari Belayu, 15 Tahun yang lalu. Dalam pewayangan ini, tokoh yang sering di tampilkan adalah “Nang Klenceng” dan “Nang Ceblong”. Dan masyarakat juga lebih akrab dengan memanggil nama “Ceng Blong”.

Bahkan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Ir.Jero Wacik sangat menggandrungi pakeliran wayang Cenk Blonk ini.

Ada satu pementasan yang bagi saya sangat menarik sekali untuk ditonton dan diambil pelajaran dari ceritanya.

Kita simak ya dialog dari Ceng dan Blong ini :

Ceng : “Lihat itu, si Nawasura Rajanya Para Koruptor!

Manusia yang tidak pernah puas. Coba kau lihat kalung di lehernya”

Blonk : ” Kalung apa itu ?”

Ceng : ” Itu kalung uang keteng”

Dengan uang itu ia bebas. Tega ya ia bisa kongkalikong. Tahu kau apa yang terjadi kalau ia masuk penjara?”

“Di dalam sel nya ada kasur empuk, tivi, hape, internet, juga ada WANITA !”

Blonk : ” Kalau aku yang masuk penjara, bagaimana ya?”

Ceng : ” Dalam kubangan tahi kau ditempatkan “

Blonk : ” Beda tempatnya ya?”

Blonk : ” Beda, jelas beda. Hukum itu mirip jala para nelayan. Jika udang kecil dan ikan kecil lewat, semua diraupnya. Tapi kalau ikan besar, rusak itu jalanya”

Weeeleeeh…hehehe…ini khan penggambaran dari pilih tebangnya para penguasa hukum dalam penegakan hukum terutama untuk para koruptor. Law Enforcement yang loyo dan tumpul. Begitulah kira-kira menurut penuturan Blong dengan menggunakan analogi jala nelayan. Rakyat kecil segera terjaring, sedang penjahat kelas kakap langsung bisa menjebol hukum. Belum lagi diperparah adanya fasilitas kemewahan dalam sel yang sudah menjadi rahasia umum buat masyarakat sangat berbeda dengan penjahat kelas teri yang harus meringkuk dalam sel yang bau dan pengap. Sungguh ironis !

Sebuah pertanyaan menggelitik kita :

” Mengapa sebuah kritik sosial lebih efektif dan manfaat penyampaiannya lewat berkesenian atau media seni pertunjukan?“

Ternyata memang ada sebuah kesan baik yang hendak ditampilkan oleh peran Wayang Cenk Blong ini. Kritik lewat seni tradisional lebih tepat sasaran. Masyarakat Indonesia menganut paham paternalisitk, sangat tidak sopan bila kritik dialamatkan langsung pada atasannya, orangtuanya, bahkan presidennya atau negaranya sendiri. Dengan menyindir lewat tokoh-tokoh wayang, yang disindir akan tetap bisa tersenyum dan tidak malu karena disindir.

Dan ternyata sang Dalang, Nardayana, mengemban misi sosial yang terbebas dari corong partai tertentu atau golongan tertentu. Sampai saat ini , ia adalah dalang independen. Nardayana cenderung menyampaikan pesan-pesan sosial politik yang netral dan menyentuh semua lapisan, tanpa harus ada yang sakit hati.

Inilah kecenderungan ideal antara dalang sebagai seniman dan wayang sebagai pertunjukan seni, keduanya harus bermuatan netral secara politis.

Salut untuk Nardayana, Cenk dan Blongnya yang bisa mewakili aspirasi rakyat jelata yang tertindas !

sumber

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...