Monday, September 3

Tempat Paling Gelap di Muka Bumi Ini

Taman Gallow Park akan ditetapkan sebagai satu dari 2 tempat daratan tergelap di bumi. Taman Gallow Forrest hampir dapat dipastikan akan didaftarkan sebagai daerah yang mempunyai skala kegelapan Bortle 2, menjadikan tempat ini satu dari 2 daratan paling gelap di bumi.


Bortle 2 adalah skala yang tertinggi yang dapat di peroleh didarat; hanya di tengah lautan, dimana polusi cahaya tidak ada sama sekali, kita dapat merasakan pengalaman kegelapan pada skala Bortle 1.


Skala Bortle, yang diciptakan oleh John Bortle tahun 2001, mengukur kegelapan langit malam berdasarkan observabilitas objek-objek astronomi. Itu berkisar antara 9 – Langit diatas kota besar – dimana objek angkasa yang hanya dapat dilihat dengan teleskop adalah adalah bulan, planet-planet, dan beberapa gugusan bintang, sampai ke skala 1 – dimana kegelapan langit sempurna – dimana galaxy M33 dapat dilihat dengan mata telanjang.

Hanya ada 414 titik cahaya atau rumah didaerah ini. Ketika komisi kehutanan meminta kepada pemilik rumah bantuan mereka dalam kampanye dark-sky, semuanya kecuali 3 orang setuju memadamkan cahaya yang tidak perlu.

sumber

Penyebab Bintang Kelihatan Berkedip


Jika malam hari tiba, diatas langit nun jauh disana, bintang-bintang bertaburan indah dengan berkedip. Kerlap-kerlip cahayanya seperti lampu disco, dan terkadang warnanya pun berubah-ubah dari putih ke biru atau merah dan seterusnya. Sebenarnya bintang memancarkan energinya relatif konstan atau stabil setiap saat. Jadi, perubahan yang terjadi tidak berasal dari bintangnya. Ada hal-hal lain yang menyebabkan bintang tampak berkedip. Apa ya itu?

Penyebab utama karena bumi memiliki atmosfer. Banyaknya lapisan udara dengan temperatur yang berbeda-beda di atmosfer, menyebabkan lapisan-lapisan udara tersebut bergerak-gerak, sehingga menimbulkan turbulensi.

Turbulensi bentuknya sama seperti ombak atau gelombang di laut dan kolam renang. Jadi, untuk mendapatkan gambaran seperti apa yang terjadi di atmosfer, bayangkan sebuah kolam renang yang permukaannya tidak tenang. Sebuah koin yang terletak diam di dasar kolam renang akan tampak bergerak-gerak, jika kita lihat dari atas permukaan air. Gerak semu ini terjadi, karena adanya refraksi/pembiasan.

Menurut ilmu fisika, ketika berkas cahaya melewati dua medium yang indeks biasnya berbeda, cahaya tersebut akan dibiaskan/dibelokkan. Untuk kasus koin di kolam renang, cahaya yang dipantulkan koin melewati dua medium yang indeks biasnya berbeda, yaitu air dan udara, sebelum jatuh di mata.

Dan karena permukaan air yang tidak tenang, posisi koin yang sebenarnya tetap pun akan tampak berpindah-pindah. Hal yang sama terjadi pada cahaya bintang yang melewati atmosfer bumi. Ketika memasuki atmosfer bumi, cahaya bintang akan dibelokkan oleh lapisan udara yang bergerak-gerak.

Akibatnya posisi bintang akan berpindah-pindah. Tetapi, karena perubahan posisinya sangat kecil untuk dideteksi mata, maka kita akan melihatnya sebagai kedipan. Gambar dari APOD berikut menunjukkan, seperti apa perubahan posisi yang dimaksud.

Bagaimana dengan planet, mengapa planet tidak tampak berkedip?

Bintang, sebesar apapun ukurannya dan sedekat apapun jaraknya, akan tampak sebagai sebuah titik cahaya, jika diamati dari bumi, bahkan dengan teleskop terbaik yang dimiliki manusia. Sedangkan planet yang memiliki ukuran yang jauh lebih kecil daripada bintang, akan tampak lebih besar dari bumi, karena jaraknya yang jauh lebih dekat. Dengan teleskop kecil saja, kita akan dapat melihat planet sebagai sebuah piringan, bukan sebagai sebuah titik cahaya.

Ukuran piringan ini cukup besar, sehingga turbulensi atmosfer tidak memberikan pengaruh yang nyata pada berkas cahaya planet. Dilihat dari permukaan bumi, planet pun akan tampak tidak berkedip. Kecuali pada kondisi atmosfer yang turbulensinya sangat kuat, atau saat planet berada di dekat horison, planet akan tampak berkedip juga. Karena pada saat planet berada di dekat horison (sesaat setelah terbit atau sebelum tenggelam), berkas cahayanya harus melewati atmosfer yang lebih tebal.

Setelah kita tahu bahwa penyebab bintang tampak berkedip adalah atmosfer bumi, kita bisa sesuaikan dengan kebutuhan kita dalam melakukan pengamatan. Jika kita ingin mengamati bintang dengan gangguan atmosfer paling sedikit, kita bisa tunggu hingga bintang tersebut berada dekat meridian.

Atau jika kita ingin melihat bintang tidak berkedip sama sekali, kita bisa pergi ke luar angkasa, atau bulan, atau planet yang tidak memiliki atmosfer (ingat, bulan tidak memiliki atmosfer). Ada yang ingin membuktikan?


sumber

Friday, June 22

Bima Sakti Punya Banyak 'Bumi'

Copenhagen –Planet kecil berbatu serupa Bumi ternyata lebih banyak ditemui di Bima Sakti dibanding galaksi lain. Hal ini membantah anggapan planet ini sulit ditemukan di Bima Sakti.

Banyaknya exoplanet serupa Yupiter yang ditemukan di bintang dengan konsentrasi besi tinggi membuat planet yang lebih kecil yang tak butuh bintang kaya besi bisa terbentuk.

“Planet kecil ini tersebar di galaksi kita karena planet ini tak butuh konten elemen tinggi untuk terbentuk,” kata pemimpin studi Lars Buchhave dari University of Copenhagen.

Para peneliti menganalisa hal ini mengguankan Kepler NASA dan berhasil menemukan 226 planet yang mengitari 152 bintang. Lebih dari tigaperempatnya lebih kecil dari Neptunus dan beberapa di antaranya sekecil Bumi.

Temuan ini menunjukkan planet seukuran Bumi bukanlah planet langka di Bima Sakti.

“Menyebarnya planet kecil di Bima Sakti meningkatkan kesempatan berkembangnya kehidupan lebih tinggi dan berevolusi,” tutupnya, seperti dikutip UPI. [mor]

inilah.com

Thursday, June 21

Ditemukan, Planet dengan Dua Matahari

Masih ingat gambaran planet Tatooine, rumah Luke Skywalker dalam film Star Wars yang memiliki dua matahari? Planet seperti itu ternyata benar-benar ada di alam semesta.



Para ahli astronomi AS mengumumkan penemuan planet dengan dua matahari tersebut dalam jurnal ilmiah Science terbaru. Planet yang diberi nama Kepler-16b itu berukuran hampir sama dengan planet Saturnus di Tata Surya kita, dan terletak sekitar 200 tahun cahaya dari Bumi. Planet ini terletak pada jarak sekitar 105 juta kilometer dari dua bintang induknya, dan memiliki periode orbit 229 hari.

Planet tersebut ditemukan menggunakan teleskop angkasa Kepler, yang memantau tak kurang 155.000 bintang. "Penemuan ini sangat mengejutkan. Sekali lagi, sesuatu yang dulu hanya ada di kisah sains-fiksi, kini menjadi kenyataan," ungkap Alan Boss dari Carnegie Institution for Science Department of Terrestrial Magnetism, salah satu astronom yang menulis artikel ilmiah tersebut.

Studi yang menemukan Kepler-16b ini dipimpin oleh astronom Laurance Doyle dari lembaga Search for Extraterrestrial Intelligence (SETI) Institute yang bermarkas di California, AS.

Sebelumnya, para astronom dari seluruh dunia sudah melihat beberapa planet yang mereka yakini mengorbit dua bintang sekaligus. Akan tetapi, mereka belum pernah melihat planet-planet tersebut melintas langsung di depan dua mataharinya, sehingga penemuan ini menjadi bukti pertama adanya planet dengan dua matahari.

"Kepler-16b adalah contoh pertama dan tak diragukan lagi dari sebuah planet sirkumbinari, yakni planet yang mengorbit dua bintang sekaligus. Sekali lagi ini membuktikan bahwa Tata Surya kita hanyalah satu bentuk variasi sistem planet yang bisa diwujudkan oleh alam." Ungkap Josh Carter dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, yang juga turut terlibat dalam penemuan ini.

Jika ada makhluk yang mendiami planet tersebut, mereka bisa menikmati saat-saat senja dengan dua matahari yang terbenam, seperti dialami Luke Skywalker dalam Star Wars. Namun, kemungkinan adanya makhluk hidup mirip manusia di planet ini sangat kecil, mengingat suhu permukaannya sangat rendah, yakni berkisar antara minus 73 sampai minus 101 derajat Celsius.

Suhu rendah ini dimungkinkan karena meski memiliki dua matahari, ukuran kedua bintang induk tersebut jauh lebih kecil dibanding Matahari kita dan memancarkan energi yang lebih kecil. Massa salah satu bintang tersebut hanya seperlima dari massa Matahari, dan bintang kedua hanya memiliki 69 persen massa Matahari.

Selain dikelilingi oleh planet Kepler-16b ini, dua bintang tersebut saling mengorbit satu sama lain dalam sebuah "dansa angkasa" dengan periode orbit 41 hari.


sains.kompas.com

Monday, June 11

Ada Kehidupan di Atmosfer Venus



Permukaan di sekitar planet Venus tidak seperti Bumi yang ramah untuk makhluk hidup. Kesempatan untuk hidup di sana bahkan hampir mendekati nol. Namun, menurut sejumlah ilmuwan, beda halnya dengan di atmosfer Venus.

Menurut beberapa sumber, kemungkinan bentuk-bentuk kehidupan primitif masih beredar di antara gas-gas yang tercampur di lapisan atmosfer Venus.

Tidak berhenti di situ, para ahli mengatakan rencananya untuk misi lebih lanjut. Mereka akan melakukan semacam misi sampel untuk mengambil setiap potensi "penghuni" yang mungkin bersembunyi di sana. Demikian dilansir Daily Galaxy, Rabu 23 Maret 2011.

Selama bertahun-tahun, beberapa pesawat ruang angkasa mendekati planet tersebut dan menganalisisnya hingga batas tertentu. Namun, mereka tidak tahu banyak tentang Venus seperti halnya Mars. Planet Merah ini dipelajari ilmuwan non-stop dalam beberapa dekade terakhir.

Meski teori-teori muncul dan mulai menunjukkan ada kehidupan di Mars, Venus bisa jadi menyimpan kejutan besar bagi para ilmuwan, khususnya astrobiologist. Namun, misteri itu dinilai cukup mudah dipecahkan. Menurut ilmuwan, cukup dengan mengirimkan balon terbang ke planet itu untuk menangkap kehidupan di atmosfer Venus.

Di permukaan planet Venus, suhu tercatat sangat tinggi. Panasnya bahkan bisa menguapkan raksa dan mengubah timah padat menjadi genangan air. Tingkat tekanannya mencapai 20 kali lipat Bumi, sehingga bisa dipastikan bahan dan struktur kehidupan tidak mungkin ada di planet ini. Jika pun ada, kemungkinan mereka yang bertahan dengan kondisi ini sangatlah minim.

Anehnya, atmosfer Venus justru mirip dengan Bumi. Jaraknya cukup jauh dari permukaan. Awannya bahkan memiliki suhu yang sama, begitu pun tingkat tekanannya. Sejumlah studi, walaupun jumlahnya sedikit, mengatakan bahwa komposisi kimia dari awan ini sangat mirip dengan awan di Bumi sekitar miliaran tahun yang lalu.

Artinya, suasana atmosfer Venus sangat mirip dengan suasana atmosfer Bumi saat terbentuk pertama kali. Atmosfer di Venus dan Bumi sama-sama tidak mengandung asam sulfat. Ini adalah petunjuk yang menjanjikan bagi banyak orang. Bahkan, orang skeptis pun mengakui bahwa ini perlu dieksplorasi lebih lanjut secara rinci.

Terlepas dari banyak temuan yang dianalisis dari Bumi, faktanya ilmuwan merasa perlu untuk mengirim roket jarak jauh untuk mengambil sampel langsung. Hanya dengan cara ini mereka bisa memastikan bahwa kehidupan memang ada atau tidak di permukaan planet tetangga Bumi itu.

sumber

Thursday, May 10

Alam Semesta Bukan Ciptaan Tuhan? Lalu Ciptaan Siapa ?

LONDON, KOMPAS.com — Fisikawan terkemuka asal Inggris, Stephen Hawking, dalam buku terbarunya yang berjudul The Grand Design berpendapat bahwa alam semesta tak diciptakan oleh Tuhan. Menurutnya, peristiwa Big Bang yang menjadi awal pembentukan alam semesta tercipta akibat hukum gravitasi dan bukan karena adanya campur tangan Ilahi.

"Karena adanya hukum gravitasi, alam semesta bisa dan akan tercipta dengan sendirinya. Penciptaan yang spontan itu adalah alasan mengapa sesuatu itu ada, mengapa alam semesta itu ada, mengapa kita ada," tegas Hawking dalam buku terbarunya itu yang ditulis bersama Leonard Mlodinow, fisikawan asal AS.

Dalam buku yang akan segera terbit pada 9 September mendatang di Inggris itu, Hawking meyakinkan bahwa "M-Theory", sebuah bentuk dari string theory, bisa menjelaskan penciptaan alam semesta. "Tidak perlu membawa-bawa Tuhan seolah-olah Ia yang memicu terciptanya alam semesta," tulis Hawking.

Pendapat Hawking bertentangan dengan Isaac Newton yang mengatakan bahwa alam semesta adalah ciptaan Tuhan karena tidak mungkin alam tercipta dari chaos. Pemikiran Hawking yang ditulis dalam buku barunya itu datang dari sebuah observasi pada 1992 yang meneliti sebuah planet serupa Bumi yang mengelilingi sebuah bintang yang mirip Matahari.

"Secara kebetulan kondisinya mirip sistem tata surya kita dengan matahari tunggal, dan kombinasi yang benar-benar sangat mirip antara jarak Bumi-Matahari dan massa matahari sehingga bukan menjadi hal yang luar biasa dan tidak terbukti bahwa Bumi dirancang secara khusus hanya untuk kehidupan manusia," jelas Hawking kemudian.

Hal tersebut bertolak belakang dengan pendapat sebelumnya. Dalam bukunya yang terbit pada tahun 1988, A Brief History of Time, Hawking menegaskan kepercayaannya akan campur tangan Tuhan dalam penciptaan alam semesta. "Jika kita menemukan sebuah teori yang lengkap maka itu akan menjadi kemenangan besar dari nalar manusia. Untuk itu, kita harus mengetahui pikiran Tuhan," tulis Hawking, pada saat itu.

sumber

Wednesday, May 9

Peristiwa Langka, Black Hole Menelan Bintang

Momen langka terjadi ketika sebuah black hole raksasa di pusat galaksi yang berjarak 2,7 juta tahun cahaya dari Bumi menghancurkan sebuah bintang. Black hole -wilayah besar di ruang angkasa yang menelan segala hal di sekeliling lewat gaya gravitasinya, termasuk cahaya- ini bermassa tiga juta kali lebih besar dari Matahari di tata surya kita.

Bintang yang menjadi korban berwarna kemerahan dan hanya berjarak 150 juta kilometer dari black hole tersebut. Ini kira-kira sama dengan jarak antara Bumi ke Matahari. Momen langka yang terjadi 10.000 tahun sekali ini disaksikan oleh peneliti dari Harvard-Smithsonian Centre for Astrophysics dan dipaparkan dalam jurnal Nature.

"Black hole seperti hiu, disalahartikan sebagai mesin pembunuh. Padahal, mereka termasuk benda pendiam sepanjang hidupnya," ujar Ryan Chornock sebagai salah satu anggota dari Harvard-Smithsonian Centre for Astrophysics, Kamis (3/5). "Biasanya ada bintang yang bergerak terlalu dekat dan itulah yang memicu proses memakan-dimakan," tambahnya.

Peristiwa ini disaksikan Chornock dan koleganya ketika mengamati pancaran cahaya pada Mei 2010. Menggunakan teleksop yang berlokasi di Gunung Haleakala di Hawaii, mereka melaporkan cahaya tersebut mencapai puncak pendarannya pada Juli 2010 sebelum akhirnya menghilang.

"Ini adalah pertama kalinya kita bisa mendapat informasi detail sehingga bisa ditentukan apa jenis bintang yang dikoyak sebuah black hole. Dan seberapa besar black hole tersebut," ujar peneliti lain, Suvi Gezari, dari John Hopkins University.

Black hole adalah sisa-sisa dari bintang yang meledak, sangat padat, sehingga tak ada satu pun benda langit yang selamat dari gaya tariknya. Jika ada bintang yang terlalu bergerak terlalu dekat, black hole bisa mengoyak dan akhirnya menghisapnya ke dalam gas.

Beruntung bagi warga Bumi, karena menurut Gezari, bintang di tata surya kita sangat jauh dari risiko ditelan black hole. "Kita harus menunggu paling tidak 10.000 tahun lagi sebelum akhirnya bisa melihat sebuah bintang ditelan oleh black hole," kata Gezari lagi.

sumber

Saturday, May 5

AS Mulai Selidiki Keberadaan UFO

Jakarta – Fenomena penampakan UFO dan asal usulnya telah lama menjadi misteri.Khawatir dengan potensi keberadaannya yang mengganggu, Amerika Serikat (AS) pun mulai menyelidikinya.

“Tujuan kami adalah membuat penerbangan menjadi lebih aman bagi masyarakat. Kami yakin ada potensi mengancam yang timbul dari fenomena udara yang tak terjelaskan ini bagi pesawat komersial dan pribadi,”kata mantan skeptis UFO dan ilmuwan NASA Richard Haines.

Haines saat ini menjadi kepala ilmuwan di National Aviation Reporting Center untuk fenomena anomali. Di posisinya ini, ia menjadi tempat pribadi untuk pilot, kru dan pengendali lalu lintas udara yang ingin mengajukan laporan UFO, tanpa takut ditertawakan.

“Ada satu pertemuan di mana pesawat terbang seperti diikuti pesawat atau obyek lain yang terus mendekatinya,bermanuver di sekitarnya, lalu terbang menghilang,”kata Haines.

Hal ini menjadi sangat penting karena menyiratkan kecerdasan di balik fenomena yang mengendalikan ‘pesawat’. Salah satu hal yang jugamenjadi fokus perhatian.

Selain itu, Haines mengaku prihatin pada potensi bahaya lain penerbangan. “Apa yang saya sebut kebingungan atau gangguan kokpitadalah kondisi di mana kehadiran fenomena ini bisa dilihat awak pesawat di bagian depan dan membuat mereka terpaku hingga lupa bertanggung jawab atas penerbangan pesawatnya,” katanya.

Kasus-kasus seperti penampakan UFO yang terbang dekat pesawat penumpang di Seoul, Korea Selatan membuat penelitian ini memang harus dilakukan, lanjutnya.

Setiap tahun, ada ribuan penampakan UFO terjadi di seluruh dunia. Namun, dari sekitar 95%laporan-laporan yang ada, penampakan UFO ini bisadijelaskan sebagai hal-hal biasa, mulai dari pesawat militer, balon, obyek astronomi yang salah diidentifikasi seperti planet atau meteor dan fenomena meteorologilain.

Kendati demikian, masih ada 5% laporan penampakan UFO yang belum bisa dijelaskan. Meski tampaknya hanya dalam persentase kecil, 5% merupakan jumlah yang bisa dikatakan cukup besar.

Sementara perdebatan kian sengit membahas apakah beberapa sisa UFO adalah pesawat ruang angkasa antar planet atau interdimensional, Amerika Serikat (AS) sedang menjajaki potensi bahaya UFO yang bertemu dengan pilot pesawat komersial.

sumber

Monday, April 30

Fenomena Bintang Jatuh

Tahukah anda penghias langit di malam hari ? pasti tahulah, ada bulan dan bintang, tapi yang ingin penulis bahas pada kesempatan ini adalah bintang. Bintang senantiasa menemani malam dengan kerlap-kerlip cahanya. Begitu indah, karena dengan cahayanya yang menghiasi malam tidak jarang orang-orang kadang mengekspresikannya dalam sebuah karya, entah itu lagu, puisi dan sebagainya.

Tapi tahukah anda, kebanyakan dari kita berpikir bahwa jika kita melihat bintang jatuh, maka itu kesempatan kita untuk meminta sesuatu untuk hidup kita, ada yang bilang bahwa jika melihat bintang jatuh akan dikabulkan semua keinginannya, seperti panjang umur, banyak harta, pokoknya apa saja deh, kalau sudah lihat bintang jatuh ayo cepat-cepat make a wish.

Fenomena bintang jatuh, memang sudah melekat pada diri masyarakat kebanyakan, terlepas dari benar atau tidaknya itu dikembalikan kepada masing-masing individunya. Saya juga sih percaya gak percaya, tapi karena banyak orang yang menganggap betul, saya sih hanya senyum-senyum aja, bagaimana dengan anda, apakah pernah juga anda alami ketka melihat bintang jatuh??

Padahal jika kita teliti secara seksama, bahwa sebenarnya yang jatuh itu bukanlah bintang, tetapi benda langit yang jatuh ke bumi itu sepertinya bukan bintang tapi benda langit lainnya yaitu meteor yang ke bumi dan menimbulkan cahaya karena gesekan dengan gravitasi bumi, yah kurang lebihnya mungkin begitu kali ya? karena saya juga bukan ahli perbintangan atau pakar astronomi, tetapi sewaktu sekolah dulu guru pernah menjelaskannya, akan tapi kalau ada yang lebih tahu minta jawabannya ya????

Bintang di langit, seolah-olah sebuah selimut indah dari sang rembulan yang sedang tertidur di peraduannya. Jika kita menanyakan kepada anak-anak semua pasti suka dengan bintang, karena bentuknya yang lucu dan unik. Disamping itu bintang juga identik juga dengan Keagungan Tuhan YME, yang menciptakannya dengan begitu indahnya, begitu banyaknya, coba bayangkan kalau semua bintang jatuh ke bumi gimana ya jadinya bumi, tapi mungkin bagi sebagian orang mungkin ini adalah kesempatan untuk make a wish, meminta sesuatu, padahal belum tahu jika lagi minta sesuatu tiba-tiba ketimpuk dech…duh sial banget yang ada…..

Apakah fenomena bintang jatuh dengan meminta sesuatu bisa dikatakan perbuatan syirik ? saya kembalikan semua ini pada anda

Sumber

Tuesday, April 3

Wow! NASA Akan Bangun Kota Di Bulan

Lembaga antariksa AS NASA mengumumkan akan membangun pondasi di bulan dan menjadikannya kota permanen. NASA merencanakan kota itu bisa selesai pada 2024.



Seperti dikutip dari CNET, kru yang beranggotakan 4 astronot akan bekerja keras dalam membangun pondasi kota itu sekitar awal tahun 2020.

Untuk menutupi biayanya, NASA telah menyiapkan US$17 miliar. NASA juga berencana melakukan koordinasi rencana ini dengan badan komersial dan bantuan internasional.

Saat merumuskan rencana awal NASA telah berkonsultasin dengan 13 lembaga luar angkasa dari berbagai negara.

Salah satu tujuan utama dari proyek ini adalah untuk membuat satu langkah maju tentang eksplorasi manusia dan penjajakan dalam penelitian Mars.

Sumber

Thursday, March 22

China Siapkan Astronaut Wanita Pertamanya

China kemungkinan akan menerbangkan wanita pertamanya ke luar angkasa tahun ini. Saat ini negara tirai bambu tersebut menyertakan wanita dalam pelatihan tim untuk misi space docking berawak pertamanya.


Tiga orang astronaut akan meluncur mengawaki pesawat luar angkasa Shenzhou 9 sekitar bulan Juni atau Agustus tahun ini. Mereka akan melakukan proses docking manual dengan modul Tiangong 1 yang saat ini mengorbit Bumi.

Kantor berita China, Xinhua, melaporkan saat ini Shenzhou 9 dan roket pembawanya, Long March 2F sudah selesai dirakit.

Tim astronaut, termasuk para wanita yang tidak disebutkan jumlahnya, tengah berlatih untuk misi docking. Wakil Ketua Program Luar Angkasa Berawak China Niu Hongguang mengatakan, tiga orang akan dipilih menjelang keberangkatan.

Setelah saling bertemu di ruang angkasa, para astronaut akan pindah sementara ke Tiangong 1, tempat di mana mereka akan melakukan serangkaian eksperimen ilmiah.

Misi docking dengan awak merupakan terobosan terbaru dalam program yang ditujukan untuk mewujudkan stasiun luar angkasa permanen bagi China pada 2020. Di stasiun tersebut para kru diharapkan dapat hidup secara mandiri untuk beberapa bulan, seperti halnya stasiun luar angkasa Mir milik Rusia atau International Space Station milik Amerika.

Space docking sendiri merupakan manuver yang sulit. Rusia dan Amerika yang sudah lebih dulu memulai misi luar angkasanya berhasil melakukan manuver ini pada 1960-an.

China mengirim awak pertamanya ke luar angkasa pada 2003 dan sejak saat itu telah beberapa kali melangsungkan misi dengan awak, tapi belum pernah menyertakan wanita.

Untuk misi space docking tanpa awak, China sudah dua kali melakukannya. Misi pertama berlangsung sukses pada 2 November 2011 yaitu antara Shenzhou 8 dan Tiangong 1. Pada 14 November, Shenzhou terlepas namun berhasil docking kembali sekitar 1,5 jam kemudian.

"Docking yang sempurna antara Shenzhou 8 dan Tiangong 1 telah menjadi dasar yang sempurna bagi misi docking berawak tahun ini," kata Niu.

Niu menjelaskan, Tiangong 1 telah mengorbit secara normal selama lebih dari 160 hari, dan dapat melakukan docking dengan Shenzhou 9 dan mengakomodasi para astronaut.
Sumber : http://nationalgeographic.co.id

Sunday, March 18

Dibuktikan, Planet Mars Pernah Memiliki Laut

Satelit milik Badan Antariksa Eropa (ESA), Mars Express, kembali memberikan bukti kuat mengenai keberadaan lautan di Mars. Dengan menggunakan radar MARSIS, Mars Express mendeteksi keberadaan sedimen yang berkenaan dengan dasar laut di antara batas-batas yang sebelumnya telah diidentifikasi sebagai garis pantai purba di Mars.

Jeremy Mouginot dari Institut de Planetologie et d’Astrophysique de Grenoble (IPAG) dan University of California, Irvine, serta rekannya telah menganalisa data-data dari radar MARSIS. Selama lebih dari dua tahun mereka menemukan bahwa dataran bagian utara diselimuti oleh materi yang tipis.

“Kami menafsirkannya sebagai endapan sedimen yang mungkin kaya akan es. Ini merupakan indikasi baru yang kuat bahwa pernah ada lautan di sini,” ujar Dr Mouginot dilansir oleh Astrobiology Magazine pada Selasa (7/2)

Keberadaan lautan pada Mars purba telah diduga sebelumnya. Beberapa fiturnya yang menunjukkan adanya batas pantai juga pernah teridentifikasi dalam foto yang diambil berbagai pesawat luar angkasa. Namun, isu ini tetap menjadi kontroversi yang hangat dibicarakan.

Diperkirakan ada dua lautan ketika kondisi cuaca masih lebih hangat pada empat miliar tahun lalu. Serta ketika es di bawah permukaan mencair dan menyebabkan dampak yang besar, menciptakan aliran keluar yang membawa air ke daerah yang lebih rendah sekitar tiga miliar tahun lalu.

“MARSIS menelusuri sampai ke dalam tanah, mengungkap kedalaman 60-80 meter dari permukaan planet. Dari kedalaman ini, kami menemukan bukti materi endapan dan es” ujar Wlodek Kofman, pemimpin tim radar di IPAG.

Sedimen yang ditemukan oleh MARSIS merupakan area dengan radar berdaya pantul rendah. Sedimen seperti itu merupakan tipikal materi butiran tipis yang telah mengalami pengikisan oleh air. Namun, lautan ini hanya bersifat sementara.

Diperkirakan oleh Dr Mouginot, dalam sejuta tahun atau kurang, airnya akan kembali membeku dan mengendap lagi di bawah tanah. Atau berubah menjadi uap air dan naik ke atmosfer secara perlahan.

Untuk menemukan bukti kehidupan, para astrobiologis akan melihat sejarah Mars ketika keberadaan air dalam periode yang lebih lama terjadi. Namun, pekerjaan ini belum memberikan bukti kuat mengenai keberadaan struktur air yang besar di Mars dan bukti lain mengenai peranan air dalam sejarah geologi Mars.

“Hasil dari Mars Express sebelumnya mengenai keberadaan air pada Mars merupakan sebuah hasil dari studi gambar dan data mineralogi, juga pengukuran atmosfir. Kini kami memiliki data dari radar bawah permukaan,” ujar Olivier Witasse, ilmuwan di proyek Mars Express.

“Ini menambahkan potongan informasi baru untuk teka-teki dengan pertanyaan yang sama: kemana semua air itu pergi?

Ditemukan, 11 Sistem Tata Surya Baru

Teleskop pemburu planet milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Kepler, berhasil menemukan 11 sistem tata surya baru yang menjadi 'rumah' bagi 26 planet. Salah satu dari tata surya ini memiliki lima planet yang mengorbit sangat dekat dengan bintang induknya, lebih dekat dibanding jarak planet Merkurius dengan Matahari di tata surya kita.

Planet-planet di sistem tata surya ini tidak sama dengan planet di sistem tata surya kita. Kelima planet itu ukurannya sekitar satu setengah hingga lima kali ukuran diameter Bumi. Namun, belum bisa ditentukan apakah planet-planet ini memiliki karakter solid seperti Bumi, Venus, Mars dan Merkurius. Ataukah penuh dengan gas seperti Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

Dari 11 sistem tata surya baru ini, satu sistem di antaranya memiliki enam planet, satu sistem lagi berisi lima planet, demikian ujar Jack Lissauer, peneliti planet yang bekerja sama dengan Ames Research Center milik with NASA di California, AS.

"(Penemuan) ini menambah tiga kali lipat jumlah bintang yang kita tahu yang memiliki lebih dari satu planet transit, jadi ini adalah penemuan besar," kata Lissauer, Jumat (27/1).

Penemuan ini juga menambah panjang daftar planet bagian luar menjadi 729 buah. 60 di antaranya adalah hasil penemuan Kepler.

Teleskop Kepler diluncurkan sejak Maret 2009 dan mampu mendeteksi cahaya berpendar yang berasal dari sebuah bintang. Pendaran inilah yang kemudian ditentukan oleh para peneliti karena kemungkinan terjadi karena ada planet yang mengorbit pada bintang tersebut. (Sumber: ABC Science)

Badai Matahari Dahsyat Melanda Bumi

Bumi kita dilanda badai Matahari terbesar dalam tujuh tahun terakhir. Satelit NASA untuk memonitor matahari, SOHO dan STEREO, telah mendeteksi awal terpaan badai tersebut pada malam hari, Minggu (22/1) lalu.

Letupan raksasa Matahari mengirimkan semburan massa korona (Coronal Mass Ejection) nan dashyat, berupa kepulan awan plasma dan partikel bermuatan, yang langsung menuju Bumi. Menguatnya radiasi di luar Bumi juga mulai dirasakan akibat badai Matahari.

Ledakan kemungkinan akan mencapai Bumi pada Selasa (24/1) ini pukul 21.18 -/+7 jam. Partikel berenergi tinggi akan mencapai Bumi dalam jangka waktu 1-2 hari, sementara radiasi elektromagnetik sampai di Bumi dalam waktu 8 menit.

Sebagaimana dilansir oleh Spaceweather.com, masuknya partikel-partikel bermuatan yang memukul medan magnetik dapat menimbulkan bahaya untuk segala sinyal GPS, komunikasi radio kutub, hingga kelancaran power grids dan circuit boards pada satelit yang tengah mengorbit.

Mars juga diperkirakan akan terkena pukulan badai ini pada 25 Januari nanti

Batu Meteor di Maroko Dipastikan dari Mars

Uji kimia pada batu meteor yang jatuh di Maroko ketika hujan meteor terjadi pada Juli 2011 lalu memastikan jika batu tersebut berasal dari planet Mars. Batu tersebut pecah menjadi beberapa bagian dengan berat total mencapai 6,8 kilogram. Pecahan batu terbesar bobotnya hanya sekitar 0,90 kilogram.

Menurut saksi mata, batu meteor ini jatuh ke Bumi seperti bola berapi. Tadinya batu ini tidak langsung ditemukan selepas hujan meteor, melainkan lima bulan kemudian atau tepatnya pada akhir Desember lalu.

Para ahli yang menemukannya dilaporkan sangat gembira dengan kepastian ini. Sebab, kini mereka menjadi pemilik salah satu barang terlangka di Bumi dan lebih berharga dari emas. "Natal datang di bulan Januari. Menyenangkan saat Mars bisa mengirim sampelnya ke Bumi. Terutama saat kantong kita terlalu tipis untuk bisa berangkat mengambil sampel (ke Mars) sendiri," kata Direktur Institut Antariksa University of Central Florida, Amerika Serikat, Selasa (17/1).

Kepastian asal batu ini didapat setelah rapat istimewa yang dihadiri beberapa ilmuwan dari Badan Antariksa AS (NASA). Berdasarkan usia dan kandungan kimia yang ada, didapatlah kesimpulan asal batu tersebut.

Menurut ahli astronomi, pecahan ini bisa sampai ke Bumi lewat perjalanan panjang. Diperkirakan jutaan tahun lalu terjadi tumbukan hebat ke permukaan planet Mars. Pecahan akibat tumbukan itu 'mengembara' ke angkasa luar hingga akhirnya masuk ke dalam atmosfer Bumi dalam pecahan-pecahan kecil.

Terakhir kali batu asal Mars sampai ke Bumi terjadi di tahun 1962. Dengan demikian, seluruh batu asal Mars yang jatuh ke Bumi jika dikumpulkan sudah mencapai bobot 108 kilogram. (Sumber: San Fransisco Chronicle)

Upaya Memecahkan Rekor Terjun Bebas dari Luar Angkasa

Felix Baumgartner, penerjun payung asal Austria, akan mencoba memecahkan rekor dunia dengan terjun dari ketinggian 36,5 kilometer. Untuk bisa melakukannya, Baumgartner akan menggunakan kapsul yang diterbangkan dengan balon khusus dan membantunya terjun bebas dari luar angkasa.

Usaha ini sebelumnya sempat ia coba di tahun 2010, namun terbentur masalah hukum. Setelah tertunda dua tahun, Baumgartner akan mencoba menuntaskan ambisinya pada pertengahan tahun 2012.

Jika usaha ini berhasil, maka Baumgartner akan memecahkan empat rekor dunia. Mulai dari rekor ketinggian, jarak yang ditempuh untuk terjun bebas, dan ketinggian untuk penerbangan menggunakan balon.

Serta yang paling sensasional adalah memecahkan rekor kecepatan tertinggi karena membuatnya mengalahkan kecepatan suara tanpa menggunakan pesawat apa pun dan hanya bermodalkan tubuhnya saja."Ini adalah cita-cita terbesar yang bisa saya impikan," kata Baumgartner seperti dikutip dari Physorg, Kamis (16/2).

"Jika kita bisa membuktikan bahwa Anda bisa mengalahkan kecepatan suara dan tetap hidup, maka ini akan jadi (pengetahuan) menguntungkan untuk eksplorasi luar angkasa,"

Kecepatan suara di udara dengan suhu 20 derajat celcius mencapai 1.236 kilometres per jam. Atau sekitar satu kilometer tiap tiga detik. Untuk mengalahkan kecepatan ini, Baumgartner akan menggunakan alat bantu. Di antaranya baju khusus serupa dengan baju astronot, helm dengan suplai oksigen hingga 20 menit, dan peralatan khusus yang digunakan menangkap data sepanjang penerjunan. Sebelumnya di tahun 1960, penerjunan dari luar angkasa pernah dilakukan Kapten Angkatan Udara AS, Joe Kittinger, dalam proyek yang disebut Excelsior. Namun, saat itu Kittinger 'hanya' meloncat dari ketinggian 31 kilometer.

Data selama penerjunan Kittinger digunakan untuk pengembangan baju luar angkasa dan kemampuan manusia di program antariksa AS. Sudah ada beberapa upaya mengalahkan rekor ini, tapi hingga sekarang belum ada satu pihak pun yang berhasil mematahkannya. (Sumber: Physorg)

Robot dan Astronot Bersalaman di Ruang Angkasa

NASA untuk pertama kalinya menerbangkan robot humanoid ke ruang angkasa. Di atas sana, robot tersebut bersalaman dengan astronot Amerika Serikat, Daniel Burbank dan mengucapkan salam.

"Harap dicatat, tadi itu salaman yang sungguhan," kata Daniel dalam rekaman video tertanggal 15 Februari 2012 di International Space Station (ISS). "Sangat bagus, pemrograman dan keseluruhan tekniknya bagus. Robot yang mengesankan."

Setelah bersalaman, robot yang dinamai Robonaut 2 atau R2 itu melambaikan tangannya sambil mengucapkan salam "Helo, World!" dalam aksen AS. Pesan tersebut merupakan frase umum yang biasa digunakan dalam pemrograman dan merupakan salam pertama yang disampaikan Robonaut melalui akun Twitter-nya, @AstroRobonaut.

Robonaut 2 bertugas membantu pekerjaan sehari-hari para astronot di stasiun ruang angkasa. Robot buatan NASA dan perusahaan pembuat mobil General Motors ini seharga US$2,5 juta.

"Hari ini merupakan sebuah tahap penting dalam pengembangan R2," kata Ron Diftler, manajer proyek Robonaut 2. "Para kru dan robot bekerja sama dengan sangat baik dan kami menyambut baik semua peluang yang akan lahir dari kolaborasi ini."

Pengiriman R2 dilakukan NASA pada Februari 2011 dalam penerbangan terakhir pesawat ulang-alik Discovery. Robot tersebut terdiri dari badan, tangan, dan kepala yang dilengkapi kamera. Tingginya mencapai 1,01 meter dan bobotnya sekitar 150 kilogram.

Para astronot di stasiun ruang angkasa menyalakan robot pada bulan Agustus dan mencobanya untuk pertama kali. NASA juga punya kembaran R2 yang dioperasikan di Bumi untuk keperluan uji lapangan, untuk mengetahui kemampuannya bergerak di medan yang berbeda-beda.

Di ISS, uji coba tahap berikutnya akan dilakukan untuk mengecek kamera bawaan R2. Kamera tersebut memungkinkan pengendali R2 untuk melihat apa yang dilihat robot dan juga digunakan oleh robot itu sendiri untuk memeriksa hasil pekerjaannya.

Begitu uji coba kamera lolos, para teknisi NASA akan menguji kemampuan robot untuk memutar saklar, menekan tombol, dan tes kecekatan lainnya terkait tugas-tugas yang ada di ISS.

Planet Baru Dipastikan Memiliki Air

GJ1214b, kelas planet baru yang ditemukan pertama kali pada 2009 diketahui memiliki air, dan para ilmuwan menjulukinya sebagai Waterworld. Planet tersebut beratmosfir tebal, beruap, dan sangat panas. Ukurannya lebih kecil dari Uranus tapi lebih besar dari Bumi.

Zachory Berta dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics (CfA) beserta rekan-rekannya melihat keberadaan Waterworld dengan teleskop Hubble milik NASA. "GJ1214b tidak seperti planet yang kita ketahui selama ini," kata Zachory. "Planet ini punya banyak air."

Para ilmuwan memperkirakan diameter 'Waterworld' mencapai 2,7 kali diameter Bumi dan bobotnya hampir tujuh kalinya. Tidak seperti Bumi yang mengorbit pada matahari sekali setahun, Waterworld mengorbit pada bintang red-dwarf setiap 38 jam. Planet GJ1214b berjarak 1,3 juta mil (sekitar dua juta km) dari bintang red-dwarf, yang artinya temperaturnya sangat panas yaitu nyaris mencapai 450 derajat Fahrenheit (sekitar 232 derajat celsius).

Penemuan Waterworld merupakan hasil dari MEarth Project yang dikepalai oleh David Charbonneau dari CfA. David dan timnya pertama kali menyampaikan hasil studi berjudul "A super-Earth transiting a nearby low-mass star" pada 2009.

Pada 2010, ilmuwan CfA Jacob Bead dan rekan-rekannya menyatakan bahwa mereka telah meneliti atmosfer 'Waterworld', dan melaporkan bahwa planet tersebut kemungkinan terbuat dari air. Akan tetapi ada kemungkinan lain --yaitu planet tersebut berselubung kabut, seperti yang menyelubungi bulan milik Saturnus, Titan.

Untuk memastikannya, Zachory dan rekan-rekannya menggunakan Wild Field Camera 3 (WFC3) dari teleskop Hubble untuk mengamati planet saat melintas di depan bintangnya. Cahaya bintang difilter melalui atmosfer planet, sehingga memberi petunjuk terkait komposisi gas yang dimilikinya.

Para ilmuwan lebih condong dengan pernyataan bahwa atmosfir planet tersebut dipadati uap air, bukan kabut. Perhitungan kepadatan planet juga menunjukkan bahwa GJ1214b punya lebih banyak air dibanding Bumi. Ini artinya struktur internalnya sangat berbeda dibanding Bumi.

"Temperatur dan tekanan yang tinggi akan membentuk material-material eksotis seperti 'es panas' atau 'air superfluida', zat-zat yang sama sekali asing dengan keseharian kita," kata Berta.

Mengingat jaraknya yang dekat dengan Bumi, besar kemungkinan akan ada observasi lanjutan menggunakan James Webb Space Telescope, yang akan diluncurkan akhir dekade ini. Sementara itu, hasil penelitian Zachory dan rekan-rekannya ini telah diterima untuk dipublikasikan di Astrophysical Journal.

Asteroid ini Kemungkinan Menumbuk Bumi di 2040

Asteroid selebar 140 meter bernama 2011 AG5 kemungkinan besar akan menabrak Bumi di tahun 2040. Hal ini disampaikan para peneliti yang tergabung dalam tim pelaksana PBB tentang objek dekat Bumi (NEOs).

Mereka berhasil menghitung jarak asteroid tersebut yang mendekati Bumi secara terus-menerus. Diperkirakan asteroid ini akan menumbuk Bumi tapat 28 tahun dari sekarang. Bagaimana cara pencegahannya sudah dibahas para peneliti dalam pertemuan di Wina, awal Februari 2012.

"2011 AG5 adalah objek yang memiliki peluang terbesar menabrak Bumi di 2040. Namun, kami baru mengamatinya sepanjang setengah orbit dan kepastian perhitungan ini masih belum terlalu tepat," ujar Detlef Koschny dari Agen Antariksa Eropa (ESA) seperti dilansir dari FOXnews, Selasa (28/2).

2011 AG5 ditemukan pertama kali oleh tim pengamat di Mount Lemmon Survey, Arizona, Amerika Serikat. Ditegaskan oleh Koschny jika asteroid ini belum bisa dianggap 'ancaman' berarti. Karena untuk bisa memastikan status berbahaya atau tidak untuk Bumi, dibutuhkan pengamatan paling tidak satu kali orbit.

Tapi Koschny dan agensinya tetap menugaskan kelompok kerja di NEO di COPUOS untuk terus mengamati 2011 AG5 dan mengganggapnya sebagai bahan pembelajaran.

Menurut Donald Yeomans dari Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), perbandingan 2011 AG5 menabrak Bumi adalah 1 berbanding 625. Namun, kembali ditegaskan jika perhitungan ini masih belum bisa dipastikan tepat. Angka kemungkinan ini bisa berubah seiring pengamatan lebih lanjut. (Sumber: Foxnews, Space.com)

Rotasi Venus Kini Makin Lambat

Perputaran planet Venus kini makin lambat. Pada dekade 90-an, para ilmuwan menyebut satu hari Venus -waktu yang diperlukan planet Venus untuk menyelesaikan satu putaran- setara dengan 243,018 hari di Bumi.

Kini, misi eksplorasi Venus milik Badan Antariksa Eropa (ESA), Venus Express menyebutkan bahwa perputaran Venus melambat dan satu hari di Venus kini 6,5 menit lebih lama.

Sementara itu para ilmuwan belum mengetahui penyebab perlambatan tersebut. Sue Smrekar, peneliti di Jet Propulsion Lan milik NASA di California semula menduga ada kesalahan data. "Tapi setelah melihat kembali datanya, saya yakin hasilnya benar. Itu berarti sesuatu telah melambatkan perputaran planet tersebut dan kami belum tahu apa itu."

Lamanya hari di Bumi bisa berubah dalam hitungan mili detik tergantung dari angin, pasang-surut dan temperatur. Sue menduga alasan yang sama juga terjadi di Venus. Kemungkinan kerena ketebalan atmosfir Venus dan angin kecepatan tinggi yang menekan perputaran planet.

Planet yang rotasinya berlawanan dengan arah rotasi kebanyakan planet memiliki atmosfir padat yang lebih dari 90 kali tekanan pada permukaan laut di Bumi.

Perubahan yang terjadi di Venus penting diketahui untuk misi-misi di masa datang. Para ilmuwan menggunakan data tersebut untuk merencanakan misi ke planet dan memilih tempat untuk pendaratan. Putaran baru ini menunjukkan bahwa sejumlah hal di Venus berada 20 kilometer lebih jauh dari perhitungan semula.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...