Saturday, July 7

Kisah Nyata Ketegaran Gadis Desa yang Tidak Diterima SNMPTN Tulis

Pengumuman penerimaan SNMPTN tulis telah ada sejak kemarin petang pukul 19.00 WIB. Beratus ribu pendaftar terus menongkrongi komputer untuk melihat buah usaha yang mereka dapat. Sejak pengumuman keluar ada yang senang karena impiannya terkabul, namun banyak juga yang merasa kecewa dengan hasil dari usaha mereka yang belum dapat terwujud saat ini. Bagi mereka yang diterima ini merupakan momen yang menentukan masa depan dan wajib dirayakan, sedangkan bagi yang kurang beruntung mungkin banyak yang lebih mengurung diri dan tertutup dengan alasan tersebut. Mereka mengeblame diri kenapa harus begini. Walaupun saya yakin tidak semuanya, bersyukur bagi mereka yang tetap tenang saat ini.

Namun di balik itu semua ada sebuah kisah nyata dan menarik untuk disimak sejenak bagi kita semua tentang ketegaran seorang gadis desa pendaftar SNMPTN yang dengan tegarnya menjawab dengan tenang bahwa dia ikhlas akan kenyataan bahwa dia tidak diterima di sebuah fakultas PTN favorit di Jogja, dan tetap ingin melanjutkan studinya di perguruan tinggi swasta lain jauh dari impiannya. Dia berasal dari sebuah desa kecil di Gunungkidul, dia tepatnya adik kelas saya. Dan dia mengijinkan saya untuk menulis tentang dia untuk memberikan motivasi bagi mereka yang senasib dengannya.

Awal setelah kelulusan adik kelas, saya mendapat kabar dari seorang guru yang selama ini memotivasi saya hingga sampai pada saya yang sekarang ini bahwa ada bebarapa anak dari SMA tempat saya dahulu mengejar ilmu ingin mendaftarkan diri di SNMPTN tulis. Salah satunya adalah wanita tersebut. Dia dari golongan ekonomi yang kurang mampu yang mencoba sedikit peruntungan dengan mendaftar di PTN yang merakyat.

Bermula dari uang pendaftaran yang tidak ada, orang tua wanita tersebut menjual sapi untuk mendapatkan uang pendaftaran. Setelah mendapatkan uang, dia melakukan pendaftaran di bank mandiri yang jaraknya 22 km dari tempat tinggal dan yang penuh sesak dengan pendaftar yang lain. Setelah mendapatkan pin untuk login, ada satu masalah yang harus ditemui, banyak warnet disekeliling bank, namun tidak ada yang bisa print. Dan ada masalah lagi pada saat melakukan pengisian SPMA. Isi form, tetapi saat di print menjadi dua lembar, begitu katanya walau saya sedikit kurang tahu bagaimana karena jelas berbeda dengan tahun yang lalu.

Karena ada masalah diatas, daripada bolak-balik ke warnet, guru saya menyuruh dia untuk pergi ke tempat tinggal guru saya di Piyungan. Setelah di Piyungan masalah form mau diselesaikan, tetapi ternyata tidak bisa. Hingga akhirnya ibu guru saya dan dia datang secara langsung ke bagian administrasi kampus tersebut. Dan tidak hanya satu kali mengurus, tetapi berkali-kali bolak-balik sampai akhirnya benar-benar dapat clear.

Setelah semua selesai, satu masalah lagi timbul, yakni tempat dia akan tinggal selama ujian. Tidak adanya saudara di Jogja membuat dia terpaksa kost yang jaraknya ke tempat ujian ternyata masih sangat jauh juga. Dia tidak seperti peserta lain yang diantar, dia naik bus dengan membawa resiko terlambat. Karena untuk ke tempat ujian dia harus jalan kaki ke halte bus, setelah itu masih juga harus berjalan kaki sekitar 1 km setelah turun dari bus ke tempat ujian.

Pada hari pertama ujian dia mengaku tidak sarapan karena takut ketinggalan bus, karena jarak kost dan jalan raya yang lumayan jauh, begitu juga pada seterusnya. Pada saat menunggu hasil pengumuman pun keluarga mendapatkan cobaan, kakak dari wanita tersebut mendapatkan cobaan harus operasi dan menelan biaya 14 juta. Dia mengaku itu pun dari hutang. Puji Tuhan tegar sekali. Saat itu dia sudah pasrah, karena saat diterima pun mungkin dia tidak akan dapat membayar uang registrasi, begitu tuturnya. Setelah ujian dia berniat bayar, namun karena dikasihani ibu kost dia tidak disuruh bayar sepeserpun.

Hingga hari yang ditunggu tiba, saya membukakan hasilnya dengan ijin dari dia, karena disana jauh dari warnet. Saya pada waktu itu sungguh berharap akan lolosnya dia, melihat bagaimana usahanya dari awal. Bagaimana dia memaksimalkan ujian nasional, dan berhasil menjadi yang terbaik di sekolahnya. Namun kenyataan berbicara lain, ada suatu rencana lain yang mengharuskan dia untuk tidak kuliah di kampus impiannya. Walau begitu, dia berkata tetap ikhlas akan semuanya dan berencana mencoba ke kampus lain yang memiliki biaya murah atau bahkan jika bisa tanpa biaya khusus untuk dia mengingat kondisi ekonomi dan cobaan yang baru datang.

Bagi anda yang mungkin tidak diterima, cobalah hayati kisah nyata di atas. Mencobalah untuk tegar, sebagaimana wanita tersebut. Usaha keras yang lalu jadikan evaluasi dan motivasi untuk lebih maju kedepannya

sumber

Thursday, June 21

Kisah Perjuangan Seorang Ibu

Jalannya sudah tertatih-tatih, karena usianya sudah lebih dari 70 tahun, sehingga kalau tidak perlu sekali, jarang ia bisa dan mau keluar rumah. Walaupun ia mempunyai seorang anak perempuan, ia harus tinggal di rumah jompo, karena kehadirannya tidak diinginkan. Masih teringat olehnya, betapa berat penderitaannya ketika akan melahirkan putrinya tersebut. Ayah dari anak tersebut minggat setelah menghamilinya tanpa mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Di samping itu keluarganya menuntut agar ia menggugurkan bayi yang belum dilahirkan, karena keluarganya merasa malu mempunyai seorang putri yang hamil sebelum nikah, tetapi ia tetap mempertahankannya, oleh sebab itu ia diusir dari rumah orang tuanya.



Selain aib yang harus di tanggung, ia pun harus bekerja berat di pabrik untuk membiayai hidupnya. Ketika ia melahirkan putrinya, tidak ada seorang pun yang mendampinginya. Ia tidak mendapatkan kecupan manis maupun ucapan selamat dari siapapun juga, yang ia dapatkan hanya cemoohan, karena telah melahirkan seorang bayi haram tanpa bapak. Walaupun demikian ia merasa bahagia sekali atas berkat yang didapatkannya dari Tuhan di mana ia telah dikaruniakan seorang putri. Ia berjanji akan memberikan seluruh kasih sayang yang ia miliki hanya untuk putrinya seorang, oleh sebab itulah putrinya diberi nama Baby Love.



Siang ia harus bekerja berat di pabrik dan di waktu malam hari ia harus menjahit sampai jauh malam, karena itu merupakan penghasilan tambahan yang ia bisa dapatkan. Terkadang ia harus menjahit sampai jam 2 pagi, tidur lebih dari 4 jam sehari itu adalah sesuatu kemewahan yang tidak pernah ia dapatkan. Bahkan Sabtu Minggu pun ia masih bekerja menjadi pelayan restaurant. Ini ia lakukan semua agar ia bisa membiayai kehidupan maupun biaya sekolah putrinya yang tercinta. Ia tidak mau menikah lagi, karena ia masih tetap mengharapkan, bahwa pada suatu saat ayah dari putrinya akan datang balik kembali kepadanya, di samping itu ia tidak mau memberikan ayah tiri kepada putrinya.

Sejak ia melahirkan putrinya ia menjadi seorang vegetarian, karena ia tidak mau membeli daging, itu terlalu mahal baginya, uang untuk daging yang seyogianya ia bisa beli, ia sisihkan untuk putrinya. Untuk dirinya sendiri ia tidak pernah mau membeli pakaian baru, ia selalu menerima dan memakai pakaian bekas pemberian orang, tetapi untuk putrinya yang tercinta, hanya yang terbaik dan terbagus ia berikan, mulai dari pakaian sampai dengan makanan.

Pada suatu saat ia jatuh sakit, demam panas. Cuaca di luaran sangat dingin sekali, karena pada saat itu lagi musim dingin pada bulan Desember. Ia telah menjanjikan untuk memberikan sepeda sebagai hadiah Tahun Baru untuk putrinya, tetapi ternyata uang yang telah dikumpulkannya belum mencukupinya. Ia tidak ingin mengecewakan putrinya, maka dari itu walaupun cuaca diluaran dingin sekali, bahkan dlm keadaan sakit dan lemah, ia tetap memaksakan diri untuk keluar rumah dan bekerja. Sejak saat tersebut ia kena penyakit rheumatik, sehingga sering sekali badannya terasa sangat nyeri sekali. Ia ingin memanjakan putrinya dan memberikan hanya yang terbaik bagi putrinya walaupun untuk ini ia harus bekorban, jadi dlm keadaan sakit ataupun tidak sakit ia tetap bekerja, selama hidupnya ia tidak pernah absen bekerja demi putrinya yang tercinta.



Seorang Ibu Sedang Mengantarkan Anaknya ke Sekolah
Karena perjuangan dan pengorbanannya akhirnya putrinya bisa melanjutkan studinya diluar kota. Di sana putrinya jatuh cinta kepada seorang pemuda anak dari seorang konglomerat beken. Putrinya tidak pernah mau mengakui bahwa ia masih mempunyai orang tua. Ia merasa malu bahwa ia ditinggal minggat oleh ayah kandungnya dan ia merasa malu mempunyai seorang ibu yang bekerja hanya sebagai babu pencuci piring di restaurant. Oleh sebab itulah ia mengaku kepada calon suaminya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.

Pada saat putrinya menikah, ibunya hanya bisa melihat dari jauh dan itupun hanya pada saat upacara pernikahan di gereja saja. Ia tidak diundang, bahkan kehadirannya tidaklah diinginkan. Ia duduk di sudut kursi paling belakang di gereja, sambil mendoakan agar Tuhan selalu melindungi dan memberkati putrinya yang tercinta. Sejak saat itu bertahun-tahun ia tidak mendengar kabar dari putrinya, karena ia dilarang dan tidak boleh menghubungi putrinya. Pada suatu hari ia membaca di koran bahwa putrinya telah melahirkan seorang putera, ia merasa bahagia sekali mendengar berita bahwa ia sekarang telah mempunyai seorang cucu. Ia sangat mendambakan sekali untuk bisa memeluk dan menggendong cucunya, tetapi ini tidak mungkin, sebab ia tidak boleh menginjak rumah putrinya. Untuk ini ia berdoa tiap hari kepada Tuhan, agar ia bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat dan bertemu dengan anak dan cucunya, karena keinginannya sedemikian besarnya untuk bisa melihat putri dan cucunya, ia melamar dengan menggunakan nama palsu untuk menjadi babu di rumah keluarga putrinya.



Ibu Menangis
Ia merasa bahagia sekali, karena lamarannya diterima dan diperbolehkan bekerja disana. Di rumah putrinya ia bisa dan boleh menggendong cucunya, tetapi bukan sebagai Oma dari cucunya melainkan hanya sebagai babu dari keluarga tersebut. Ia merasa berterima kasih sekali kepada Tuhan, bahwa permohonannya telah dikabulkan.

Di rumah putrinya, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus, bahkan binatang peliharaan mereka jauh lebih dikasihi oleh putrinya daripada dirinya sendiri. Di samping itu sering sekali dibentak dan dimaki oleh putri dan anak darah dagingnya sendiri, kalau hal ini terjadi ia hanya bisa berdoa sambil menangis di dlm kamarnya yang kecil di belakang dapur. Ia berdoa agar Tuhan mau mengampuni kesalahan putrinya, ia berdoa agar hukuman tidak dilimpahkan kepada putrinya, ia berdoa agar hukuman itu dilimpahkan saja kepadanya, karena ia sangat menyayangi putrinya.

Setelah bekerja bertahun-tahun sebagai babu tanpa ada orang yang mengetahui siapa dirinya dirumah tersebut, akhirnya ia menderita sakit dan tidak bisa bekerja lagi. Mantunya merasa berhutang budi kepada pelayan tuanya yang setia ini sehingga ia memberikan kesempatan untuk menjalankan sisa hidupnya di rumah jompo.

Puluhan tahun ia tidak bisa dan tidak boleh bertemu lagi dengan putri kesayangannya. Uang pensiun yang ia dapatkan selalu ia sisihkan dan tabung untuk putrinya, dengan pemikiran siapa tahu pada suatu saat ia membutuhkan bantuannya.

Pada tahun lampau beberapa hari sebelum Tahun Baru, ia jatuh sakit lagi, tetapi ini kali ia merasakan bahwa saatnya sudah tidak lama lagi. Ia merasakan bahwa ajalnya sudah mendekat. Hanya satu keinginan yang ia dambakan sebelum ia meninggal dunia, ialah untuk bisa bertemu dan boleh melihat putrinya sekali lagi. Di samping itu ia ingin memberikan seluruh uang simpanan yang ia telah kumpulkan selama hidupnya, sebagai hadiah terakhir untuk putrinya.

Suhu diluaran telah mencapai 17 derajat di bawah nol dan salujupun turun dengan lebatnya, jangankan manusia anjingpun pada saat itu tidak mau keluar rumah lagi, karena di luaran sangat dingin, tetapi Nenek tua ini tetap memaksakan diri untuk pergi ke rumah putrinya. Ia ingin betemu dengan putrinya sekali lagi yang terakhir kali. Dengan tubuh menggigil karena kedinginan, ia menunggu datangnya bus berjam-jam di luaran. Ia harus dua kali ganti bus, karena jarak rumah jompo tempat di mana ia tinggal letaknya jauh dari rumah putrinya. Satu perjalanan yang jauh dan tidak mudah bagi seorang nenek tua yang berada dalam keadaan sakit.

Setiba di rumah putrinya dlm keadaan lelah dan kedinginan ia mengetuk rumah putrinya dan ternyata purtinya sendiri yang membukakan pintu rumah gedong di mana putrinya tinggal. Apakah ucapan selamat datang yang diucapkan putrinya ? Apakah rasa bahagia bertemu kembali dengan ibunya? Tidak! Bahkan ia ditegor: “Kamu sudah bekerja di rumah kami puluhan tahun sebagai pembantu, apakah kamu tidak tahu bahwa untuk pembantu ada pintu khusus, ialah pintu di belakang rumah!”

“Nak, Ibu datang bukannya untuk bertamu melainkan hanya ingin memberikan hadiah Tahun Baru untukmu. Ibu ingin melihat kamu sekali lagi, mungkin yang terakhir kalinya, bolehkah saya masuk sebentar saja, karena di luaran dingin sekali dan sedang turun salju. Ibu sudah tidak kuat lagi nak!” kata wanita tua itu.

“Maaf saya tidak ada waktu, di samping itu sebentar lagi kami akan menerima tamu seorang pejabat tinggi, lain kali saja. Dan kalau lain kali mau datang telepon dahulu, jangan sembarangan datang begitu saja!” ucapan putrinya dengan nada kesal. Setelah itu pintu ditutup dengan keras. Ia mengusir ibu kandungnya sendiri, seperti juga mengusir seorang pengemis.

Tidak ada rasa kasih, jangankan kasih, belas kasihanpun tidak ada. Setelah beberapa saat kemudian bel rumah bunyi lagi, ternyata ada orang mau pinjam telepon di rumah putrinya “Maaf Bu, mengganggu, bolehkah kami pinjam teleponnya sebentar untuk menelpon ke kantor polisi, sebab di halte bus di depan ada seorang nenek meninggal dunia, rupanya ia mati kedinginan!”

Wanita tua ini mati bukan hanya kedinginan jasmaniahnya saja, tetapi juga perasaannya. Ia sangat mendambakan sekali kehangatan dari kasih sayang putrinya yang tercinta yang tidak pernah ia dapatkan selama hidupnya.



Ibu yang Melahirkan Kita SemuaSeorang Ibu melahirkan dan membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang tanpa mengharapkan pamrih apapun juga. Seorang Ibu bisa dan mampu memberikan waktunya 24 jam sehari bagi anak-anaknya, tidak ada perkataan siang maupun malam, tidak ada perkataan lelah ataupun tidak mungkin dan ini 365 hari dalam setahun. Seorang Ibu mendoakan dan mengingat anaknya tiap hari bahkan tiap menit dan ini sepanjang masa. Bukan hanya setahun sekali saja pada hari-hari tertentu. Kenapa kita baru bisa dan mau memberikan bunga maupun hadiah kepada Ibu kita hanya pada waktu hari Ibu saja “Mother’s Day” sedangkan di hari-hari lainnya tidak pernah mengingatnya, boro-boro memberikan hadiah, untuk menelpon saja kita tidak punya waktu.

Kita akan bisa lebih membahagiakan Ibu kita apabila kita mau memberikan sedikit waktu kita untuknya, waktu nilainya ada jauh lebih besar daripada bunga maupun hadiah.

Renungkanlah: Kapan kita terakhir kali menelpon Ibu? Kapan kita terakhir mengundang Ibu? Kapan terakhir kali kita mengajak Ibu jalan-jalan? Dan kapan terakhir kali kita memberikan kecupan manis dengan ucapan terima kasih kepada Ibu kita? Dan kapankah kita terakhir kali berdoa untuk Ibu kita?

Berikanlah kasih sayang selama Ibu kita masih hidup, percuma kita memberikan bunga maupun tangisan apabila Ibu telah meninggal, karena Ibu tidak akan bisa melihatnya lagi.

When Mother prayed, she found sweet rest,
When Mother prayed, her soul was blest;
Her heart and mind on God were stayed,
And God was there when Mother prayed!
Our thanks, O God, for mothers
Who show, by word and deed,
Commitment to Thy will and plan
And Thy commandments heed.
A thousand men may build a city,
but it takes a mother to make a home.
No man is poor who has had a godly mother!


Siapapun Kita semua yang ada di dunia sekarang. baik itu seorang pelajar atau pejabat, baik seorang jendral maupun kopral, baik seorang mahasiswa ataupun taruna, baik itu seorang penjahat ataupun pelacur, baik itu seorang koruptor atau pun direktur, baik seorang menteri ataupun seorang presiden. Kita semua terlahir dari rahim ibu, ibu yang dengan tulus ikhlas mengandung merawat dan membesarkan kita hingga sekarang kita menjadi seperti ini. Coba saja kalo ibu kita tidak ikhlas mungkin kita sudah di aborsi. Ketika kecil kita sakit beliau merawat kita, ketika kita belum bisa berjalan, beliau menuntun kita, ketika kata belum terucap beliau membimbing kita. Siapapun ibu kita entah renta atau masih muda, entah masih bersama kita ataupun sudah tiada, mari kita ucapkan terima kasih pada beliau, mari kita kasihi beliau sebagaimana kita dulu beliau kasihi, Ya Tuhanku berikanlah tempat teramat istimewa bagi ibuku tersayang.

Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali … Sepenggal syair lagu itu benar-benar mengena pada sosok ibu asal AS ini. Wanita berusia 80 tahun itu selama berpuluh-puluh tahun merawat putrinya yang mengalami koma.
Sampai akhirnya ibu penuh kasih itu meninggal, mendahului putrinya yang hingga saat ini masih terbaring dalam koma berkepanjangan.
Kaye O’Bara menutup mata untuk selamanya di rumahnya di Miami Gardens, Florida. Kamar yang selama ini ditempatinya bersama putrinya, Edwarda sejak 1970 silam. Kaye meninggal dalam tidurnya. Dia telah bertahun-tahun menderita penyakit jantung.
Semasa hidupnya Kaye pernah berjanji tak akan pernah meninggalkan Edwarda yang ketika itu masih remaja. Janji itu dimulai sejak Edwarda jatuh koma akibat penyakit diabetesnya 38 tahun yang lampau.
“Kami kira dia akan hidup melampaui kami semua. Wanita itu begitu kuat,” kata keponakan Kaye, Pamela Burdgick seperti dilansir harian News.com.au.
Selama kurun waktu 38 tahun, kisah pengabdian Kaye kepada putrinya, Edwarda menarik simpati banyak orang. Para pengunjung yang jumlahnya tak terhitung lagi mendatangi rumah Kaye. Bahkan ada pula sebagian orang yang datang dari Jepang untuk ikut merayakan ulang tahun Edwarda.

Kisah Kaye telah dituangkan dalam buku laris karya Dr. Wayne Dyer yang berjudul A Promise Is A Promise: An Almost Unbelievable Story of a Mother’s Unconditional Love and What It Can Teach Us.
Edwarda, penderita diabetes, mengalami flu sebelum Natal 1969. Beberapa hari kemudian kondisinya memburuk dan orangtuanya, Kaye dan suaminya, Joe, membanya ke rumah sakit.
Beberapa saat sebelum Edwarda kehilangan kesadarannya, remaja putri itu sempat bertanya kepada ibunya: “Janji ibu tidak akan meninggalkan saya, janji ya?” Kaye pun berjanji tidak akan pernah meninggalkan anak perempuannya itu.
Itulah kata-kata terakhir yang disampaikan Kaye sebelum anaknya koma berkepanjangan. Dan Kaye menepati janjinya.

Kaye dengan teratur membalik tubuh putrinya tiap dua jam supaya tidak mengalami nyeri akibat berbaring terlalu lama. Kaye memberinya makan berupa campuran makanan bayi dan susu bubuk melalui tube, menyuntikkan insulin, memutar alunan musik, membacakan buku untuk Edwarda dan tak lelah berdoa di samping tempat tidur Edwarda supaya suatu hari nanti putrinya itu akan sadar kembali.

Bagi Kaye, mengurus putrinya itu bukanlah beban, melainkan berkat. Kaye sangat yakin, Edwarda akan terbangun. “Bagi saya, dia hampir sadar. Kadang-kadang saya merasa mendengar dia bicara: Ibu, saya baik-baik saja,” kata Kaye kepada media AS, Miami Herald beberapa waktu lalu.

Namun kini Kaye telah pergi untuk selamanya. Dia meninggalkan Edwarda yang masih terbaring koma entah sampai kapan. Adik Edwarda, Colleen O’Bara mengatakan, keluarga akan terus merawat Edwarda di rumah mereka. Sama seperti Kaye, Colleen juga yakin kakaknya itu akan sadar suatu hari nanti.

Suami Kaye, Joe mengalami serangan jantung pada tahun 1972 dan meninggal dunia empat tahun kemudian. Sejak itu, Kaye mengurus Edwarda dengan menggunakan tunjangan sosial dari pemerintah dan dana pensiun suaminya, ditambah lagi dengan sumbangan dari orang-orang

http://www.exelroze.info

Thursday, June 7

Kisah Nyata Dua Suami Berbagi Satu Istri

Amar dan Kundan Singh Pundir adalah saudara kandung. Amar bekerja sebagai pemecah batu, sedangkan Kundan, kakaknya, menggarap lahan pertanian sempit warisan orangtua mereka di Himachal Pradesh, India.



Dua bersaudara berusia 40-an tahun ini selalu tinggal bersama. Mereka berbagi apa saja, mulai rumah, pekerjaan, bahkan berbagi istri. "Sudah menjadi tradisi kami sejak awal untuk memiliki keluarga dari lima atau 10 orang. Dua bersaudara dengan satu istri," ungkap Kundan.

Praktik seperti ini disebut fraternal polyandry, kakak beradik dari satu keluarga menikah dengan perempuan yang sama. Biasanya, pernikahan seperti ini bermotif tradisi dan ekonomi.
Bagi kebanyakan orang, cara seperti ini memang nyeleneh, namun tidak bagi 200-an orang yang tinggal di desa tersebut. Dan itu pula yang terjadi pada Amar dan Kundan.

Desa mereka berada di bibir jurang sebuah bukit setinggi hampir 180 meter. Sebagian besar penduduknya hidup bercocok tanam di lahan sempit. Di wilayah yang keras seperti itu, tak cukup lahan yang bisa diolah atau ditinggali. Jadi, daripada mencari istri sendiri-sendiri dan harus berbagi lahan warisan, kakak beradik seperti mereka kemudian menikah dengan perempuan yang sama. Dengan begitu, tanah warisan tidak terbagi-bagi lagi.

Si istri, Indira Devi, mengaku hidup dengan dua suami bukan perkara mudah. "Kami sering bertengkar," katanya. Sama seperti keluarga lain, pertengkaran mereka biasanya karena masalah duniawi. "Biasanya memang masalah sehari-hari, seperti mengapa kamu tidak melakukan ini atau itu," bebernya.

Satu hal yang selalu mereka setujui bersama adalah punya anak. Dengan Kundan dan Amar, Indira memiliki tiga anak, dua laki-laki dan satu perempuan. Bagaimana dengan kehidupan seks mereka? "Kami membuat shift, bergantian tiap malam. Kalau tidak begitu, tak akan berjalan baik," kata Kundan.

"Agar kehidupan berkeluarga berjalan dengan baik, kami harus melakukannya. Bisa mengatasi halangan dengan baik. Juga mengendalikan hati masing-masing agar tidak terlalu perasa," tukas Amar.

Ketika ditanya ayah biologis setiap anak, Amar dan Kundan mengaku tidak tahu. Anak-anak mereka pun tidak peduli. "Sama saja. Karena ibu dan ayah adalah dewa bagi saya," kata Sunita Singh Pundir, 17, anak perempuan keluarga itu.

Anak pertama dan ketiga Pundir yang laki-laki sepertinya ingin meneruskan tradisi tersebut. "Tentu saja," kata Sonha, anak tertua. Dia dan adik laki-lakinya mengatakan sudah membicarakan itu dan akan segera menikah dengan perempuan yang sama. Namun tidak demikian dengan Sunita. Dia menegaskan tak ingin meneruskan tradisi itu. "Saya ingin punya satu suami saja," sahutnya.

Hanya, ketika dihadapkan pada cinta dan tradisi, Sunita mengaku memilih tradisi. "Saya tak akan pernah meninggalkan tradisi meski harus mengabaikan cinta. Saya tak akan merendahkan martabat orangtua dan saudara laki-laki," lanjut Sunita.

Biasanya, pernikahan seperti itu sudah diatur dan rata-rata para perempuan di desa itu juga memiliki dua suami. Bahkan ada yang punya tiga atau empat suami, bergantung pada jumlah kakak beradik pria yang dimiliki keluarga yang dia nikahi.

Poliandri sebenarnya tindakan melanggar hukum di India, meski secara sosial dapat diterima bagi sebagian masyarakat di sana. Tak ada satupun pejabat pemerintah yang terganggu dengan para penduduk yang melanggar hukum itu. "Sudah terjadi sejak lama. Saudari tiri saya juga punya dua suami, begitu juga dengan ibu tiri saya," kata Indira.

sumber

Thursday, May 10

Cerita Rakyat : Jayaprana & Layonsari Versi 2012


Di suatu desa yang bernama desa Taro kecamatan Tegallalang, Gianyar, hiduplah suatu keluarga , didalam keluarga itu ada seorang pria yang bernama I Made Dira dan istrinya ni Nyoman Rubik, mereka mempunyai tiga orang anak, yang paling tua bernama I Wayan Galang, Yang kedua bernama I Made Manu dan yang paling bungsu bernama I Nengah Jayaprana. Mereka adalah keluarga kecil yang berbahagia, I Made Dira selalu menasehati ketiga putranya itu untuk saling membantu sesama dan berbuat kebajikan. Suatu ketika mereka sekeluarga bepergian ke Bedugul untuk liburan akhir pekan, semua berjalan lancar sampai suatu ketika mobil merk BMW 320 i itu menabrak pagar pembatas jalan karena menghindari bus yang melaju kencang dari arah berlawanan. Mobil itupun terguling dan terpental hingga 9 meter. Warga yang melihat kejadian itu langsung menelepon polisi dan melarikan kelima korban tersebut ke RS terdekat. Seluruh keluarga I Made Dira meninggal saat sampai dirumah sakit. Hanya yang paling bungsu I Nengah Jayaprana yang masih bisa selamat. Seorang relawan merasa kasihan kepada Jayaprana, sehingga relawan itu membiayai seluruh pengobatan rumah sakit Jayaprana.

Tiga bulan berlalu setelah kecelakaan tragis itu, i Jayaprana keluar dari rumah sakit dan pulang ke rumahnya di desa taro, Jayaprna sangat sedih dan sering murung sendiri di rumahnya sendirian. Jayaprana tidak memiliki saudara lain, hanya tetangga karibnya yang peduli padanya. Kadangkala tetangganya yang bernama I Ketut Sulastri merasa iba dengan nasib jayaprana yang sebatang kara, I Ketut Sulastri sering membawakan jayaprana makanan seadaanya yang Ia miliki. Tinggallah jayaprana menyendiri dalam kamarnya berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Sampai akhirnya pada suatu ketika muncul kesadaran dalam diri Jayaprana dalam hati ia berkata “aku tidak boleh begini terus !, aku harus melanjutkan hidupku walau dengan segala keadaanku saat ini” maka bangkitlah Jayaprana Ia kembali kesekolahnya di SMAN 1 Taro, Jayaprna belajar dengn giat sampai akhirnya ia tamat sekolah, dan akan melanjutkan ke Perguruan tinggi, Jayaprana merupakan siswa yang pintar, karena kepintarannya itulah Jayaprana mendapat beasiswa untuk Kuliah di Singapura, sebuah Kampus yang mencetak mahasiswa-mahasiswa yang sangat berpenagruh pada dunia.

7 tahun Jayaprana menuntut ilmu di Negera Singapura, ia pun pulang ke kampung halamannya di Desa Taro, kedatangan Jayaprana disamput haru oleh segenap orang-orang di desanya yang sangat menyayangi dan membanggakan I Jayaprana. Keesokan harinya I Jayaprana pergi ke Kota Denpasar untuk melamar pekerjaan, dengan statusnya sebagai Sarjana lulusan luar negeri dengan predikat S2 Tehnik Manajemen Perkantoran tentu I Jayaprana dengan mudahnya mendapat pekerjaan di perusahaan milik swasta yang bernama PT. Genta Buana Paramita. Di perusahaan itu I Jayaprana diangkat menjadi Jendral Menejer merangkap Wakil Sekretaris Direktur. I Jayaprana sangat disayang oleh Direktur perusahaan tersebut yang bernama Gusti Made Wenten sampai-sampai I Jayapran dibuatkan rumah nyaman oleh Direktur Gusti Made Wenten di kawasan Gatsu Timur, Denpasar. I Jayaprana sering disuruh oleh direkturnya sebagai sopir untuk mengantar Direktur Gusti Made Wenten bepergian. Sampai pada akhinya I Jayaprana disuruh oleh Direktur Gusti Made Wenten untuk menemani beliau ke acara kondangan sahabat Direktur Gusti Made Wenten. Ditengah perjalan berkatalah sang direktur “hai, engkau jayaprana, sekarang umurmu sudah 25 tahun, sudah matang untuk menikah kenapa kau tidak mencari seorang istri ?” jawab I Jayaprana “belum saatnya pak, saya mau fokus ke pekerjaan saya dulu” dengan ekspresi yang agak cemberut Direktur Gusti Made Wenten pun menjawabnya “loh kenapa begitu ? kau sudah mapan, sudah punya rumah sendiri, mobil sendiri tampan dan rupawan lagi, apa kau tidak kesepian sendirian ?” jawab I Jayaprana “ bukannya begitu pak, saya ingin segera menikah tetapi.........” jayaprana pun diam disela-sela perkataannya. Sang direktur pun semakin penasaran “tetapi apa ? jawab Jayaprana !” kata sang direktur dengan nada yang sedikit membentak, balas I Jayaprana “tetapi saya sudah berjanji kepada mendiang ayah, ibu dan kedua kakak saya, kalau saya tidak akan menikah sebelum saya genap berusia 29 tahun. Balas sang direktur “kenapa begitu ? itukan hanya janji bodoh yang kau ucapkan ketika dulu kau masih dalam keterpurukan, sekarang segalanya telah berubah, jangan kau terus terbayang-bayang masa lalu mu itu, tatap kedepan dan tulis ulang di lembaran baru jalan hidupmu !” mendengar desakan sang Direktur I Jayaprana pun me-Ia kan permintaan sang direktur.

Keesokn harinya tapat malam minggu, I Jayaprana merasa bosan dirumah, Jayaprana membuka laptopnya dan membuka jejaring sosial Facebook, ketika ia lagi asyik facebookan, tiba-tiba ada chat dari sahabat lamanya dari Baturiti, Tabanan yang bernama I Gede Darsana. I Gede Darsana pun menyuruh I Jayaprana untuk melancong ke rumah I Gede Darsana, tanpa pikir panjang lagi berangkatlah I Jayaprana menuju Desa Baturiti, Tabanan dengan mengendarai mobil merk Mercedez-benz C201. Ketika I Jayaprana sampai dirumah sahabatnya itu, I Jayaprana telah disambut hangat oleh sahabatnya I Gede Darsana. Merka berbincang-bincang kesana-sini, menceritakan keadaan masing-masing dan pengalaman mereka masing-masing. Disela-sela keasyikan mereka mengobrol datanglah lah seorang gadis cantik yang benama Ni Nyoman Layonsari membawa surat undangan pernikahan kakaknya untuk I Gede Darsana, “Bli Gede ini ada undangan mesakapan untuk Bli Gede dari kakak tiang” kata Ni Layonsari, “oh iya terimakasih ya Layonsari sudah repot-repot malam-malam seperti ini” saut I Gede Darsana. “oh iya perkenalkan ini teman saya Jayapana Dari Denpasar”sambung I Gede Darsana. Jayaprana pun dikenalkan kepada Ni Layonsari, merekapun bersalaman dan saling memperkenalkan diri mereka masing-masing. Saat bersalaman jantung I Jayaprana berdetak kencang, begitupun dengan layonsari mukanya memerah. Lalu layonsari mohon diri untuk pulang ke rumahnya.

Sejak kepulangan Layonsari I Jayaprana sangat penasaran dengan kecantikan Ni Layonsari bertanyalah I Jayaprana Kepda I Gede Darsana “De, dari mana itu tadi gadis yang bernama Layonsari? Cantik sekali dia, sudah punya pacar belum ?” jawab I Gede Darsana”oh itu teman saya dari banjar sebelah, dia masih sendiri belum punya pacar, eh kenapa kamu nanya gitu ? kamu suka ya sama Layonsari ?” goda I Gede Darsana .”eh, kamu jangan mengada-ada ya de!” jawab I Jayaprana dengan agak gugup. Jam sudah menunjukan pukul 11.15 malam, I Jayapana mohon ijin pulang kepada I Gede Darsana. Dalam perjalanan pulang, I Jayaprana selalu terbayang wajah Ni Layonsari. Saat sampai dirumahpun I Jayaprana masih terbayang-bayang wajah canti ni Layonsari. Tiga hari berselang sejak perkenalannya dengan Ni Layonsari, I Jayaprana tidak sanggup menahan rasa penasarannya terhadap Ni Layonsari, I Jayaprana pun menelon I Gede Darsana dan meminta Pin BB nya Ni Layonsari, I Gede Darsanapun memberikan Pin BB Ni Layonsari kepada I Jayaprana. I Jayaparana pun segera menginvite jayaprana, setelah di confir , I Jayaprana pun langsung menge-PING!!! Ni Layonsari, Layonsari membalas BBM I Jayaprana dengan gaya tulisan agak bingung “siapa ya ? :0” balas I Jayaprana “ini aku Jayaprana yang di rumahnya Gede Darsana malam itu” , “ oh Ia saya ingat sama kamu,” singkat cerita mereka pun saling BBM-an kadang kala juga menelpon.

Sampai akhirnya I Jayaprana mengajak Ni Layonsari untuk ketemu di Lapangan alun-alun Renon. Merekapun bertemu dan saling mengobrol, sampai akhirnya I Jayaprana pun meminta agar Ni Layonsari mau menjadi pacar I Jayaprana. Layonsari dengan perasaan yang agak dekdegan meng-iakan permintaan I Jayaprana , Sangat gembira I Jayaprana Mendengar kalu Ni Layonsari menerimanya, Jayaprana pun mengeluarkan sebuah cincin dari saku celananya yang kemudian ia pasang di jari manis Ni Layonsari. I Jayaprana dan Ni Layonsari mengucap janji “sehidup semati, setia selamanya”. Dua tahun mereka pacaran dan mereka sudah merencanakan pernikahan. Kabar ini langsung I Jayaprana sampaikan kepada Direkturnya Gusti Made Wenten. Gusti Made Wenten sangat gembira mendengar berita itu. Gusti Made Wentenpun langsung melaksanakan rapat banjar untuk merencanaka segala keperluan perjikahan I Jayaprana dan Layonsari. Gusti Made Wenten berjanji kepada I Jayaprana bahwa Ia akan menanggung semua biaya pernikahan I Jayaprana dan Layonsari. Sampai pada saatnya I Jayaprana dan Ni Layonsari melangsungkan upacara pernikahan dan saat itupula Direktur Gusti Made Wenten meihat paras Ni Layonsari yang cantik jelita, Gusti Made Wenten tercengang diam membisu seribu bahasa, tak sanggup berkata-kata melihat kecantikan paras Ni Layonsari. Dari sanalah timbul niat jahat Gusti Made Wenten untuk memiliki Ni Layonsari sebagai istri ke empatnya dan menyingkirkan I Jayaprana. Setelah upacar berakhir semua warga pulang kerumah masing-masing begitu pula dengan Gusti Made Wenten. Dirumah itu tinggallah sepasang suami-istri yang berbahagia I Jayaprana dan Ni Layonsari.

Sampailah Gusti Made Wenten dirumahnya, sesampainya dirumah Gusti Made Wenten , iapun mengumpulkan beberapa karyawan di perusahaan yang Ia pimpin , yaitu I Wayan Koster, I made Lilir, I Wayan somi, Gusti Ngurah Wijaya, Ki Dukuh Belatung dan terakhir I Ketut Madya. Gusti made wenten memberi tahu rencana untuk menyingkirkan I Jayaprana dagar Gusti Made Wenten dapat memperistri Ni Layonsari. “kalian semua aku kumpulkan disini untuk menyingkirkan I Jayaprana agar aku bisa merebut intrinya Ni Layonsari, Kalian aku tugaskan untuk pergi bersama I Jayaprana ke pulau Bangka Belitung untuk menyelesaikan sengketa tanah perusahaan dengan rakyat disana. Tapi ingat !! ini hanya kedok! Sesampainya kalian sampai disana segera habisi Jayaprana, tanpa ada jejak ! soal Ni Layonsari biar aku yang urus” mereka berenam meng-iakan perintah Gusti Made Wenten. Gusti Made Wenten pun segera Menelepon I Jayaprana tentang keberangkatannya yang mendadak besok bersama 6 karyawan lainnya. Dengan berat hati I Jayaprana meng-iyakan perintah Direkturnya Gusti Made Wenten. I Jayaprana pun memberi tahu istrinya Ni layonsari tentang keberangkatannya yang yang mendadak itu, dengan berat hati Ni Layonsari mengijinkannya walau sempat menolak karena baru menikah sudah ditinggal I Jayaprana tugas keluar kota. Malam pun berlalu dan Jayaprana siap berangkat yang sudah ditunggu oleh mobil penjemput yang akan mengantar Jayaprana ke Bandara Internasional Ngurah Rai. Firasat buruk pun seketika menyelimuti hati Ni Layonsari, air matanya menetes ketika sang suami I Jayaprana meninggalkannya, tapi apa mau dikata.

Enam jam penerbangan dari Bali menuju Bangka Belitung dan sampailah rombongan Jayaprana di tempat penginapan yang jauh dari pemukiman penduduk. Tanpa disadari saat terbangun dari tidur kaki dan tangan I Jayaprana sudah diikat. I Jayaprana pun memberontak dan berkata “sebenarnya ada apa ini ? apa yang kalian lakukan ?” berkatalah I Wayan Koster tentang semua rencana I Gusti Made Wenten menugaskan I Jayaprana dan enam lainnya ke Bangka Belitung bukan untuk tugas melainkan untuk membunuh Jayaprana dan mengambil istrinya. Setelah mendengar semua cerita tersebut jayaprana sedih, bingung dan galau, dalam hati Ia berkata “ Tuhan.. seberat inikah cobaan yang engkau beri, yah.. jika ini memang takdir hamba, hamba terima semua jalan yang telah kau tulis untuk hamba, tapi hamba sadar ya Tuhan, hamba harus melwan, hamba tidak mau berakhir seperti ini dan meninggalkan istri yang baru kemarin hamba nikahi”

Dengan segenap tenaga I Jayaprana berhasil melepaskan ikatan dikaki dan tangannya, terjadilah perkelahiang yang dahsyat antara I Jayaprana Melawan 6 anak buah Gusti Made Wenten, I Jayaprana dengan kekuatan cintanya berhasil menumbangkan semuaanak buah Gusti Made Wenten, tanpa I Jayaprana sadari Ki dukuh Belatung masih bisa bergerak dan menembak dada kiri I Jayaprana, Jayaprana pun tumbang, air matanya menetes memikirkan apa yang akan terjadi kepada istrinya NI Layonsari, Seketika datanglah seekor burung merpati membawa sepucuk kertas putih di mulutnya, dan Jayaprana pun langsung mengambil pene dan menulis surat terakhirnya untuk Layonsari. Dengan posisi tengkurap dan berlumuran darah, juga sekarat, I Jayaprana menulis surat yang berisi

“Dinda Layonsari
Maafkan kakanda yang meninggalkan dinda
Kanda diperdaya oleh anak buah Gusti Made Wenten
Hanya demi Gusti made Wenten yang ingin memiliki dinda
Kanda sadar sebentar lagi ajal akan menjemput kanda
Kalau boleh kanda meminta kepa Hyang Widhi
Kanda Ingin sekali mengulang waktu
Waktu saat saat dulu lagi
Tapi apa mau dikata
Inilah jalan Hyang Widhi yang diberikan kepada kita
Dinda jaga diri dinda baik-baik
Walaupun kanda tidak bisa menyentuh dinda lagi
Tapi Percayalah dinda, Kanda akan selalu abadi dihati dinda
Kanda akan selalu menjaga dinda
Walau kini kanda telah tiada”

I Jayaprana pun selesai menulis surat terkhirnya untuk Ni layonsari, diikiatkannya surat tersebut di kaki burung merpati tadi. Burung merpati itupun terbang menuju rumah I Jayaprana & Layonsari . Sangat sedih hati Ni Layonsari membaca surat itu balam hati ia berkata “kanda kenapa kanda ? kenapa kau pergi meninggalkan dinda ? baru kemarin kita menikah kanda, belum kita merasakan indahnya menjadi orang tua dari anak-anak kita” Lalu datanglah Gusti Made Wenten ke rumah Ni Layonsari, untuk memaksa Ni Layonsari pergi bersama Gusti Made Wenten. Ni Layonsari menolak , lalu segera Ni Layonsari mengambil Pistol yang ada di pinggang Gusti Made Wenten dan Laoyonsari pun berkata “ Lebih baik aku mati juga menyusul kakanda Jayaprana di alam sana” “doooorrr” Layonsari pun menembakk kepalanya sendiri hingga tewas ditempat.
Pada akhirnya Gusti Made Wenten dan keenam anak buahnya dihukum mati karena melakukan tindak kriminal yaitu pembunuhan berencana. Warga desa Taro sangat menyayangkan apa yang terjadi dengan Jayaprana dan Layonsari. Mayat mereka pun di upacarai dan dikubur berdampingan.

NB : Cerita diatas merupakan Cerita Layonsari dan Jayaprana Versi 2012 , Yang ditulis ulang oleg Admin Bali-Network apabila ada kesamaan nama latar tempat dan kejadian, itu hanya rekayasa dan fiktif belaka. Cerita ini ditulis ulang tanpa mengubah inti dari cerita yang sebenarnya.

Friday, May 4

Kisah Cinta Tragis "Jayaprana & Layonsari"


Dua orang suami istri bertempat tinggal di Desa Kalianget mempunyai tiga orang anak, dua orang laki-laki dan seorang perempuan. Oleh karena ada wabah yang menimpa masyarakat desa itu, maka empat orang dari keluarga yang miskin ini meninggal dunia bersamaan. Tinggalan seorang laki-laki yang paling bungsu bernama I Jayaprana. Oleh karena orang yang terakhir ini keadaannya yatim piatu, maka ia puan memberanikan dirimengabdi di istana raja. Di istana, laki-laki itu sangat rajin, rajapun amat kasih sayang kepadanya.
Kini I Jayaprana baru berusia duabelas tahun. Ia sangat ganteng paras muka tampan dan senyumnya pun sangat manis menarik.
Beberapa tahun kemudian.

Pada suatu hari raja menitahkan I Jayaprana, supaya memilih seorang dayang-dayang yang ada di dalam istana atau gadis gadis yang ada di luar istana. Mula-mula I Jayaprana menolak titah baginda, dengan alasan bahwa dirinya masih kanak-kanak. Tetapi karena dipaksan oleh raja akhirnya I Jayaprana menurutinya. Ia pun melancong ke pasar yang ada di depan istana hendak melihat-lihat gadis yang lalu lalang pergi ke pasar. Tiba-tiba ia melihat seorang gadis yang sangat cantik jelita. Gadis itu bernama Ni Layonsari, putra Jero Bendesa, berasal dari Banjar Sekar.

Melihat gadis yang elok itu, I Jayaprana sangat terpikat hatinya dan pandangan matanya terus membuntuti lenggang gadis itu ke pasar, sebaliknya Ni Layonsari pun sangat hancur hatinya baru memandang pemuda ganteng yang sedang duduk-duduk di depan istana. Setelah gadis itu menyelinap di balik orang-orang yang ada di dalam pasar, maka I Jayaprana cepat-cepat kembali ke istana hendak melapor kehadapan Sri Baginda Raja. Laporan I Jayaprana diterima oleh baginda dan kemudian raja menulis sepucuk surat.
I Jayaprana dititahkan membawa sepucuk surat ke rumahnya Jero Bendesa. Tiada diceritakan di tengah jalan, maka I Jayaprana tiba di rumahnya Jero Bendesa. Ia menyerahkan surat yang dibawanya itu kepada Jero Bendesa dengan hormatnya. Jero Bendesa menerima terus langsung dibacanya dalam hati. Jero Bendesa sangat setuju apabila putrinya yaitu Ni Layonsari dikawinkan dengan I Jayaprana. Setelah ia menyampaikan isi hatinya “setuju” kepada I Jayaprana, lalu I Jayaprana memohon diri pulang kembali.
Di istana Raja sedang mengadakan sidang di pendopo. Tiba-tiba datanglah I Jayaprana menghadap pesanan Jero Bendesa kehadapan Sri Baginda Raja. Kemudian Raja mengumumkan pada sidang yang isinya antara lain: Bahwa nanti pada hari Selasa Legi wuku Kuningan, raja akan membuat upacara perkawinannya I Jayaprana dengan Ni Layonsari. Dari itu raja memerintahkan kepada segenap perbekel, supaya mulai mendirikan bangunan-bangunan rumah, balai-balai selengkapnya untuk I Jayaprana.

Menjelang hari perkawinannya semua bangunan-bangunan sudah selesai dikerjakan dengan secara gotong royong semuanya serba indah. Kini tiba hari upacara perkawinan I Jayaprana diiringi oleh masyarakat desanya, pergi ke rumahnya Jero Bendesa, hendak memohon Ni Layonsari dengan alat upacara selengkapnya. Sri Baginda Raja sedang duduk di atas singgasana dihadap oleh para pegawai raja dan para perbekel baginda. Kemudian datanglah rombongan I Jayaprana di depan istana. Kedua mempelai itu harus turun dari atas joli, terus langsung menyembah kehadapan Sri Baginda Raja dengan hormatnya melihat wajah Ni Layonsari, raja pun membisu tak dapat bersabda.

Setelah senja kedua mempelai itu lalu memohon diri akan kembal ke rumahnya meninggalkan sidang di paseban. Sepeninggal mereka itu, Sri Baginda lalu bersabda kepada para perbekel semuanya untuk meminta pertimbangan caranya memperdayakan I Jayaprana supaya ia mati. Istrinya yaitu Ni Layonsari supaya masuk ke istana dijadikan permaisuri baginda. Dikatakan apabila Ni Layonsari tidak dapat diperistri maka baginda akan mangkat karena kesedihan.

Mendengar sabda itu salah seorang perbekel lalu tampak ke depan hendak mengetengahkan pertimbangan, yang isinya antara lain: agar Sri Paduka Raja menitahkan I Jayaprana bersama rombongan pergi ke Celuk Terima, untuk menyelidiki perahu yang hancur dan orang-orang Bajo menembak binatang yang ada di kawasan pengulan. Demikian isi pertimbangan salah seorang perbekel yang bernama I Saunggaling, yang telah disepakati oleh Sang Raja. Sekarang tersebutlah I Jayaprana yang sangat brebahagia hidupnya bersama istrinya. Tetapi baru tujuh hari lamanya mereka berbulan madu, datanglah seorang utusan raja ke rumahnya, yang maksudnya memanggil I Jayaprana supaya menghadap ke paseban. I Jayaprana segera pergi ke paseban menghadap Sri P aduka Raja bersama perbekel sekalian. Di paseban mereka dititahkan supaya besok pagi-pagi ke Celuk Terima untuk menyelidiki adanya perahu kandas dan kekacauan-kekacauan lainnya. Setelah senja, sidang pun bubar. I Jayaprana pulang kembali ia disambut oleh istrinya yang sangat dicintainya itu. I Jayaprana menerangkan hasil-hasil rapat di paseban kepada istrinya.

Hari sudah malam Ni Layonsari bermimpi, rumahnya dihanyutkan banjir besar, ia pun bangkit dari tempat tidurnya seraya menerangkan isi impiannya yang sangat mengerikan itu kepada I Jayaprana. Ia meminta agar keberangkatannya besok dibatalkan berdasarkan alamat-alamat impiannya. Tetapi I Jayaprana tidak berani menolak perintah raja. Dikatakan bahwa kematian itu terletak di tangan Tuhan Yang Maha Esa. Pagi-pagi I Jayaprana bersama rombongan berangkat ke Celuk Terima, meninggalkan Ni Layonsari di rumahnya dalam kesedihan. Dalam perjalanan rombongan itu, I Jayaprana sering kali mendapat alamat yang buruk-buruk. Akhirnya mereka tiba di hutan Celuk Terima. I Jayaprana sudah meras dirinya akan dibinasakan kemudian I Saunggaling berkata kepada I Jayaprana sambil menyerahkan sepucuk surat. I Jayaprana menerima surat itu terus langsung dibaca dalam hati isinya:

“ Hai engkau Jayaprana
Manusia tiada berguna
Berjalan berjalanlah engkau
Akulah menyuruh membunuh kau

Dosamu sangat besar
Kau melampaui tingkah raja
Istrimu sungguh milik orang besar
Kuambil kujadikan istri raja

Serahkanlah jiwamu sekarang
Jangan engkau melawan
Layonsari jangan kau kenang
Kuperistri hingga akhir jaman.”

Demikianlah isi surat Sri Baginda Raja kepada I Jayaprana. Setelah I Jayaprana membaca surat itu lalu ia pun menangis tersedu-sedu sambil meratap. “Yah, oleh karena sudah dari titah baginda, hamba tiada menolak. Sungguh semula baginda menanam dan memelihara hambat tetapi kini baginda ingin mencabutnya, yah silakan. Hamba rela dibunuh demi kepentingan baginda, meski pun hamba tiada berdosa. Demikian ratapnya I Jayaprana seraya mencucurkan air mata. Selanjutnya I Jayaprana meminta kepada I Saunggaling supaya segera bersiap-siap menikamnya. Setelah I Saunggaling mempermaklumkan kepada I Jayaprana bahwa ia menuruti apa yang dititahkan oleh raja dengan hati yang berat dan sedih ia menancapkan kerisnya pada lambung kirinya I Jayaprana. Darah menyembur harum semerbak baunya bersamaan dengan alamat yang aneh-aneh di angkasa dan di bumi seperti: gempa bumi, angin topan, hujan bunga, teja membangun dan sebagainya.

Setelah mayat I Jayaprana itu dikubur, maka seluruh perbekel kembali pulang dengan perasaan sangat sedih. Di tengah jalan mereka sering mendapat bahaya maut. Diantara perbekel itu banyak yang mati. Ada yang mati karena diterkam harimau, ada juga dipagut ular. Berita tentang terbunuhnya I Jayaprana itu telah didengar oleh istrinya yaitu Ni Layonsari. Dari itu ia segera menghunus keris dan menikan dirinya. Demikianlah isi singkat cerita dua orang muda mudi itu yang baru saja berbulan madu atas cinta murninya akan tetapi mendapat halangan dari seorang raja dan akhirnya bersama-sama meninggal dunia.

sumber

Thursday, May 3

Hachiko Si Anjing Setia

Lahir 10 November 1923 dari induk bernama Goma-go dan anjing jantan bernama Ōshinai-go, namanya sewaktu kecil adalah Hachi. Pemiliknya adalah keluarga Giichi Saitō dari kota Ōdate, Prefektur Akita. Lewat seorang perantara, Hachi dipungut oleh keluarga Ueno yang ingin memelihara anjing jenis Akita Inu. Ia dimasukkan ke dalam anyaman jerami tempat beras sebelum diangkut dengan kereta api yang berangkat dari Stasiun Ōdate, 14 Januari 1924. Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 jam, Hachi sampai di Stasiun Ueno, Tokyo.

Hachi menjadi anjing peliharaan Profesor Hidesaburō Ueno yang mengajar ilmu pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo. Profesor Ueno waktu itu berusia 53 tahun, sedangkan istrinya, Yae berusia 39 tahun. Profesor Ueno adalah pecinta anjing. Sebelum memelihara Hachi, Profesor Ueno pernah beberapa kali memelihara anjing Akita Inu, namun semuanya tidak berumur panjang. Di rumah keluarga Ueno yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya, Hachi dipelihara bersama dua ekor anjing lain, S dan John. Sekarang, lokasi bekas rumah keluarga Ueno diperkirakan di dekat gedung Tokyo Department Store sekarang.
Ketika Profesor Ueno berangkat bekerja, Hachi selalu mengantar kepergian majikannya di pintu rumah atau dari depan pintu gerbang. Di pagi hari, bersama S dan John, Hachi kadang-kadang mengantar majikannya hingga ke Stasiun Shibuya. Di petang hari, Hachi kembali datang ke stasiun untuk menjemput.

Pada 21 Mei 1925, seusai mengikuti rapat di kampus, Profesor Ueno mendadak meninggal dunia. Hachi terus menunggui majikannya yang tak kunjung pulang, dan tidak mau makan selama 3 hari. Menjelang hari pemakaman Profesor Ueno, upacara tsuya (jaga malam untuk orang meninggal) dilangsungkan pada malam hari 25 Mei 1925. Hachi masih tidak mengerti Profesor Ueno sudah meninggal. Ditemani John dan S, ia pergi juga ke stasiun untuk menjemput majikannya.
Nasib malang ikut menimpa Hachi karena Yae harus meninggalkan rumah almarhum Profesor Ueno. Yae ternyata tidak pernah dinikahi secara resmi. Hachi dan John dititipkan kepada salah seorang kerabat Yae yang memiliki toko kimono di kawasan Nihonbashi. Namun cara Hachi meloncat-loncat menyambut kedatangan pembeli ternyata tidak disukai. Ia kembali dititipkan di rumah seorang kerabat Yae di Asakusa. Kali ini, kehadiran Hachi menimbulkan pertengkaran antara pemiliknya dan tetangga di Asakusa. Akibatnya, Hachi dititipkan ke rumah putri angkat Profesor Ueno di Setayaga. Namun Hachi suka bermain di ladang dan merusak tanaman sayur-sayuran.

Pada musim gugur 1927, Hachi dititipkan di rumah Kikusaburo Kobayashi yang menjadi tukang kebun bagi keluarga Ueno. Rumah keluarga Kobayashi terletak di kawasan Tomigaya yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya. Setiap harinya, sekitar jam-jam kepulangan Profesor Ueno, Hachi terlihat menunggu kepulangan majikan di Stasiun Shibuya.

Pada tahun 1932, kisah Hachi menunggu majikan di stasiun mengundang perhatian Hirokichi Saitō dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang. Prihatin atas perlakuan kasar yang sering dialami Hachi di stasiun, Saitō menulis kisah sedih tentang Hachi. Artikel tersebut dikirimkannya ke harian Tokyo Asahi Shimbun, dan dimuat dengan judul Itoshiya rōken monogatari ("Kisah Anjing Tua yang Tercinta"). Publik Jepang akhirnya mengetahui tentang kesetiaan Hachi yang terus menunggu kepulangan majikan. Setelah Hachi menjadi terkenal, pegawai stasiun, pedagang, dan orang-orang di sekitar Stasiun Shibuya mulai menyayanginya. Sejak itu pula, akhiran kō (sayang) ditambahkan di belakang nama Hachi, dan orang memanggilnya Hachikō.

Sekitar tahun 1933, kenalan Saitō, seorang pematung bernama Teru Andō tersentuh dengan kisah Hachikō. Andō ingin membuat patung Hachikō. Setiap hari, Hachikō dibawa berkunjung ke studio milik Andō untuk berpose sebagai model. Andō berusaha mendahului laki-laki berumur yang mengaku sebagai orang yang dititipi Hachikō. Orang tersebut menjual kartu pos bergambar Hachikō untuk keuntungan pribadi. Pada bulan Januari 1934, Andō selesai menulis proposal untuk mendirikan patung Hachikō, dan proyek pengumpulan dana dimulai. Acara pengumpulan dana diadakan di Gedung Pemuda Jepang (Nihon Seinenkan), 10 Maret 1934. Sekitar tiga ribu penonton hadir untuk melihat Hachikō.

Patung perunggu Hachikō akhirnya selesai dan diletakkan di depan Stasiun Shibuya. Upacara peresmian diadakan pada bulan April 1934, dan disaksikan sendiri oleh Hachikō bersama sekitar 300 hadirin. Andō juga membuat patung lain Hachikō yang sedang bertiarap. Setelah selesai pada 10 Mei 1934, patung tersebut dihadiahkannya kepada Kaisar Hirohito dan Permaisuri Kōjun.
Selepas pukul 06.00 pagi, tanggal 8 Maret 1935, Hachikō, 13 tahun, ditemukan sudah tidak bernyawa di jalan dekat Jembatan Inari, Sungai Shibuya. Tempat tersebut berada di sisi lain Stasiun Shibuya. Hachikō biasanya tidak pernah pergi ke sana. Berdasarkan otopsi diketahui penyebab kematiannya adalah filariasis.

Upacara perpisahan dengan Hachikō dihadiri orang banyak di Stasiun Shibuya, termasuk janda almarhum Profesor Ueno, pasangan suami istri tukang kebun Kobayashi, dan penduduk setempat. Biksu dari Myōyū-ji diundang untuk membacakan sutra. Upacara pemakaman Hachikō berlangsung seperti layaknya upacara pemakaman manusia. Hachikō dimakamkan di samping makam Profesor Ueno di Pemakaman Aoyama. Bagian luar tubuh Hachikō diopset, dan hingga kini dipamerkan di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, Ueno, Tokyo.



Patung Hachikō di depan Stasiun Ōdate
Pada 8 Juli 1935, patung Hachikō didirikan di kota kelahiran Hachikō di Ōdate. tepatnya di depan Stasiun Ōdate. Patung tersebut dibuat serupa dengan patung Hachikō di Shibuya. Dua tahun berikutnya (1937), kisah Hachikō dimasukkan ke dalam buku pendidikan moral untuk murid kelas 2 sekolah rakyat di Jepang. Judulnya adalah On o wasureruna (Balas Budi Jangan Dilupakan).
Pada tahun 1944, di tengah berkecamuknya Perang Dunia II, patung perunggu Hachikō ikut dilebur untuk keperluan perang. Patung pengganti yang sekarang berada di Shibuya adalah patung yang selesai dibuat bulan Agustus 1948. Patung tersebut merupakan karya pematung Takeshi Andō, anak laki-laki Teru Andō.


Pintu keluar Stasiun JR Shibuya yang berdekatan dengan patung Hachikō disebut Pintu Keluar Hachikō. Sewaktu didirikan kembali tahun 1948, patung Hachikō diletakkan di bagian tengah halaman stasiun menghadap ke utara. Namun setelah dilakukan proyek perluasan halaman stasiun pada bulan Mei 1989, patung Hachikō dipindah ke tempatnya yang sekarang dan menghadap ke timur.
Film Hachikō Monogatari karya sutradara Seijirō Kōyama mulai diputar di Jepang, Oktober 1987. Pada bulan berikutnya diresmikan patung Hachikō di kota kelahirannya, Ōdate. Monumen peringatan ulang tahun Hachikō ke-80 didirikan 12 Oktober 2003 di lokasi rumah kelahiran Hachikō di Ōdate. Sebuah drama spesial tentang Hachikō ditayangkan jaringan televisi Nippon Television pada tahun 2006. Drama sepanjang dua jam tersebut diberi judul Densetsu no Akitaken Hachi (Legenda Hachi si Anjing Akita). Pada tahun 2009 film Hachiko: A Dog's Story[1] karya sutradara Lasse Hallström mulai diputar dan dibintangi oleh Richard Gere dan Joan Allen.

sumber

Friday, March 9

Kisah Sampek Engtay

Eng Tay adalah seorang anak dara dari keluarga Chu Lun, sebuah keluarga pemilik konservatori kupu-kupu malam di distrik lampu merah Kowloon, China.
Eng Tay hobinya bolos sekolah karena ia lebih senang bermain dengan kupu-kupu malam peliharaannya. Namun di Cina kuno dulu, wanita yang tidak pergi ke sekolah adalah hal yang sangat tidak lazim. Karena itu dia dihasut oleh ayahnya bahwa ada Rain (yang nongol-nongol di TV ngomong My name is Rain itu lho) di sekolahnya. Eng Tay pun setuju untuk pergi ke sekolah, tapi ternyata yang ada di sekolah bukan artis Rain, melainkan hujan (rain). Karena dongkol ia segera pulang tapi ternyata kedua orangtuanya telah pergi ke Jakarta untuk mengunjungi konservatorium Taman Lawang. Semua pintu rumah dan konservatoriumnya terkunci sehingga Eng Tay terpaksa harus menginap di asrama sekolahnya.
Di Asrama Sekolah bernama Sung Yék tersebut, Eng Tay berteman dekat dengan gadis bernama Kuo Mu Lan (真性感). Mereka begitu dekat sehingga akhirnya Eng Tay menjadi lesbian dan menyatakan cintanya pada Mu Lan. Mu Lan yang masih waras pun segera menolak Eng Tay dan kabur ke sebuah kepulauan di selatan Cina, dimana namanya menjadi Mulan Kwok dan menulis sebuah lagu tentang hubungannya dengan Eng Tay, yang menjadi hits di kepulauan tersebut. Ini adalah sebagian dari lagunya:

Cukup saja kuberteman denganmu, jangan kau meminta lebih
Lebih baik kita berteman, kita berteman saja
Daripada lesbian….wuouwowowowowowoooooooooo
Laaaaaaaaaaaaa……………….lalalalalalaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………… lalalalalalalalalaaaaaaaaaaaaalalalalalalaaaaaaaaaaaaa………… laaaaaaaaaaaaaaaaaaaaalalalalalalaaaaaaaaaaaaaaaalalalalal
aaaaaaaaaaaaaaaaalalalalalalalaaaaaaaaaaaaaaaaa…………………......
Eng Tay yang patah hati segera menyatakan cintanya pada seorang pembuat sempak yang menginap di kamar sebelahnya, bernama Sam Pek. Ia tidak tahu bahwa Sam Pek sebenarnya adalah banci alias lekong yang menyamar jadi wanita agar bisa diterima di asrama sekolah tersebut. Saat itu di Cina kuno laki-laki yang pergi bersekolah memang tidak lazim, sehingga laki-laki yang ingin bersekolah harus menjadi waria dulu. Hal ini terjadi sebelum Raden Agung Kartono mencanangkan emansipasi laki-laki di Cina.
Sam Pek yang sebenarnya masuk sekolah hanya agar bisa memuaskan matanya tiap hari melihat wanita-wanita bahenol di asrama, Langsung menerima cinta Eng Tay tanpa menyadari bahwa Eng Tay adalah lesbian yang mengira dia adalah wanita. Merekapun mulai berpacaran.
Pada suatu ketika, orang tua Eng Tay melihat di TV seorang artis bernama Ma San Cai (性書女) dalam sebuah film bernama Meteor Ganjen. Tertarik dengan kekayaannya, merekapun meminta anaknya yang lesbi tersebut untuk menikah dengan Ma San Cai. Eng Tay yang jatuh cinta pada pandangan pertama pada San Cai langsung mengiyakan tawaran orang tuanya tersebut.
Sam Pek yang hendak mengunjungi Eng Tay untuk mencobakan sempak terbaru desainnya, terkejut melihat ada tenda biru di depan rumah Eng Tay. Tenda itu dihiasi dengan janur kuning. Lebih terkejut lagi ia ketika melihat Eng Tay sedang bersanding, duduk di pelaminan. Air mata dan air kencingnya tumpah tak terhenti karena Eng Tay telah mengkhianati cinta (tidak) suci mereka.
Sementara, Eng Tay yang telah dibutakan oleh harta San Cai telah melupakan tentang Sam Pek. Sampai suatu ketika, ia mendapati San Cai sedang berajeb-ajeb dengan seorang kriminal dari Indonesia bernama Al Amin Nasution di sebuah hotel. San Cai dan Al Amin yang terkejut dengan kedatangan Eng Tay segera menculik Eng Tay dan menjualnya ke Azirwan untuk menjadi penebang hutan lindung di pulau Bintan, Riau. Untunglah transaksi itu berhasil deketahui oleh tentara China, yang kemudian menangkap Al Amin dan San Cai dan memenjarakan mereka di Prisoner of Azerbaijan.
Eng Tay yang lagi-lagi putus cinta kembali teringat kepada Sam Pek ketika ia melihat celana dalamnya saat sedang berak di sungai Huang He. Ia berniat hendak menjalin kembali hubungannya dengan Sam Pek, tapi Sam Pek sudah pergi ke Dunia Lain dengan pesawat dari bandara interdimensional Jeruk Purut. Eng Tay pun mengejar Sam Pek dengan pesawat yang sama.
Mengetahui hal itu, orang tua Eng Tay hendak menghentikan Eng Tay, namun mereka terlambat karena ban mobilnya hancur setelah melewati jalanan menuju Jeruk Purut yang bolong-bolong. Sesampainya di Jeruk Purut, mereka hanya mendapati 2 ekor Kupu-kupu Malam peliharaan Eng Tay di sana. Mereka pun menebar gosip bahwa Sam Pek dan Eng Tay telah melakukan kawin lari sehingga dikutuk menjadi 2 ekor kupu-kupu malam. Sejak saat itu Kupu-kupu malam menjadi simbol kawin lari di Cina. Jika ada pasangan yang melakukan kawin lari, itu akan dianggap karena salah satu dari pasangan itu adalah jelmaan Kupu-Kupu Malam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...